<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Menuju Ekstase Spiritual</title>
	<atom:link href="http://sanggardewa.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sanggardewa.wordpress.com</link>
	<description>The Light Worker Has Head In The Sky And Has Feet In The Earth</description>
	<lastBuildDate>Tue, 13 Dec 2011 18:41:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='sanggardewa.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/855857f2b9b45a02bb9c7c97935fc875?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Menuju Ekstase Spiritual</title>
		<link>http://sanggardewa.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://sanggardewa.wordpress.com/osd.xml" title="Menuju Ekstase Spiritual" />
	<atom:link rel='hub' href='http://sanggardewa.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Cinta Indonesia, Peduli Palestina</title>
		<link>http://sanggardewa.wordpress.com/2009/01/13/cinta-indonesia-peduli-palestina/</link>
		<comments>http://sanggardewa.wordpress.com/2009/01/13/cinta-indonesia-peduli-palestina/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Jan 2009 11:45:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sanggardewa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sanggardewa.wordpress.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[Saya mendapatkan posting dari sebuah milis. Karena bagus dan mencerahkan, penulis aslinya belum bisa dipastikan karena sudah beberapa kali menjadi korban “copas” alias copy paste dari milis-milis di belakangnya. Kenapa Kita Memikirkan Palestina? “Akhirnya, pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita.Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar.” (Bung Tomo, Surabaya, 10 November 1945) Kalau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sanggardewa.wordpress.com&amp;blog=1606512&amp;post=54&amp;subd=sanggardewa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<a href='http://sanggardewa.wordpress.com/2009/01/13/cinta-indonesia-peduli-palestina/mughniyah/' title='mughniyah'><img data-attachment-id='51' data-orig-size='120,180' data-liked='0'width="100" height="150" src="http://sanggardewa.files.wordpress.com/2009/01/mughniyah.jpg?w=100&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="mughniyah" title="mughniyah" /></a>
<a href='http://sanggardewa.wordpress.com/2009/01/13/cinta-indonesia-peduli-palestina/haniyah2/' title='haniyah2'><img data-attachment-id='52' data-orig-size='123,165' data-liked='0'width="111" height="150" src="http://sanggardewa.files.wordpress.com/2009/01/haniyah2.jpg?w=111&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="haniyah2" title="haniyah2" /></a>
<a href='http://sanggardewa.wordpress.com/2009/01/13/cinta-indonesia-peduli-palestina/346px-bung_tomo11/' title='346px-bung_tomo11'><img data-attachment-id='53' data-orig-size='120,207' data-liked='0'width="86" height="150" src="http://sanggardewa.files.wordpress.com/2009/01/346px-bung_tomo11.jpg?w=86&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="346px-bung_tomo11" title="346px-bung_tomo11" /></a>

<p>Saya mendapatkan posting dari sebuah milis. Karena bagus dan mencerahkan, penulis aslinya belum bisa dipastikan karena sudah beberapa kali menjadi korban “copas” alias copy paste dari milis-milis di belakangnya.</p>
<p>Kenapa Kita Memikirkan Palestina?</p>
<p>“Akhirnya, pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita.Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar.” (Bung Tomo, Surabaya, 10 November 1945)</p>
<p>Kalau ada ribut-ribut di negara- negara Arab, misalnya di Mesir, Palestina, atau Suriah, kita sering bertanya apa signifikansi dukungan terhadap negara tersebut. Misalnya hari ini ketika Palestina diserang, mengapa kita (bangsa Indonesia) ikut sibuk?</p>
<p>Sebagai orang Indonesia, sejarah menjelaskan bahwa kita malah berhutang dukungan untuk Palestina dan negara arab lain.</p>
<p>Dari sumber yang saya peroleh (insyaallah shahih); Sukarno-Hatta boleh saja memproklamasikan kemerdekaan RI de facto pada 17 Agustus 1945, tetapi perlu diingat bahwa untuk berdiri (de jure) sebagai negara yang berdaulat, Indonesia membutuhkan pengakuan dari bangsa-bangsa lain. Pada poin ini kita tertolong dengan adanya pengakuan dari tokoh tokoh Timur Tengah, sehingga Negara Indonesia bisa berdaulat.</p>
<p>Gong dukungan untuk kemerdekaan Indonesia ini dimulai dari Palestina dan Mesir, seperti dikutip dari buku “Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri” yang ditulis oleh Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia , M. Zein Hassan Lc.</p>
<p>M. Zein Hassan Lc. Lt. sebagai pelaku sejarah, menyatakan dalam bukunya pada hal. 40, menjelaskan tentang peranserta, opini dan dukungan nyata Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia, di saat negara-negara lain belum berani untuk memutuskan sikap.</p>
<p>Dukungan Palestina ini diwakili oleh Syekh Muhammad Amin Al-Husaini -mufti<br />
besar Palestina- secara terbuka mengenai kemerdekaan Indonesia:”.., pada 6 September 1944, Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan ‘ucapan selamat’ mufti Besar Palestina Amin Al-Husaini (beliau melarikan diri ke Jerman pada permulaan perang dunia ke dua) kepada Alam Islami, bertepatan ‘pengakuan Jepang’ atas kemerdekaan Indonesia.</p>
<p>Berita yang disiarkan radio tersebut dua hari berturut-turut, kami sebar-luaskan, bahkan harian “Al-Ahram” yang terkenal telitinya juga menyiarkan.” Syekh Muhammad Amin Al-Husaini dalam kapasitasnya sebagai mufti Palestina juga berkenan menyambut kedatangan delegasi “Panitia Pusat Kemerdekaan Indonesia” dan memberi dukungan penuh. Peristiwa bersejarah tersebut tidak banyak diketahui generasi sekarang, mungkin juga para pejabat dinegeri ini.</p>
<p>Bahkan dukungan ini telah dimulai setahun sebelum Sukarno-Hatta benar-benar memproklamirkan kemerdekaan RI.</p>
<p>Tersebutlah seorang Palestina yang sangat bersimpati terhadap perjuangan Indonesia, Muhammad Ali Taher. Beliau adalah seorang saudagar kaya Palestina yang spontan menyerahkan seluruh uangnya di Bank Arabia tanpa meminta tanda bukti dan berkata: “Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia ..”</p>
<p>Berapa uang kita yang sudah diperuntukan kepada mereka yang dulu telah membantu moyang kita…?????</p>
<p>Dukungan Mengalir. Setelah Itu di jalan-jalan terjadi demonstrasi- demonstrasi dukungan kepada Indonesia oleh masyarakat Timur Tengah.</p>
<p>Ketika terjadi serangan Inggris atas Surabaya 10 November 1945 yang menewaskan ribuan penduduk Surabaya, demonstrasi anti Belanda-Inggris merebak di Timur-Tengah khususnya Mesir. Shalat ghaib dilakukan oleh masyarakat di lapangan-lapangan dan masjid-masjid di Timur Tengah untuk para syuhada yang gugur dalam pertempuran yang sangat dahsyat itu.</p>
<p>Yang mencolok dari gerakan massa internasional adalah ketika momentum Pasca<br />
Agresi Militer Belanda ke-1, 21 juli 1947, pada 9 Agustus. Saat kapal “Volendam” milik Belanda pengangkut serdadu dan senjata telah sampai di Port Said.</p>
<p>Ribuan penduduk dan buruh pelabuhan Mesir berkumpul di pelabuhan itu.<br />
Mereka menggunakan puluhan motor-boat dengan bendera merah putih? tanda solidaritas- berkeliaran di permukaan air guna mengejar dan menghalau blokade terhadap motor-motor- boat perusahaan asing yang ingin menyuplai air &amp; makanan untuk kapal “Volendam” milik Belanda yang berupaya melewati Terusan Suez, hingga kembali ke pelabuhan.</p>
<p>Temen-temen gimana rasannya saat melihat bendera kita di kibarkan oleh bangsa lain dengan kesadaran penuh menunjukan rasa solidaritasnya???? karena mereka peduli Wartawan ‘Al-Balagh’ pada 10/8/47 melaporkan: “Motor-motor boat yang penuh buruh Mesir itu mengejar motor-boat besar itu dan sebagian mereka dapat naik ke atas deknya. mereka menyerang kamar stirman, menarik keluar petugas-petugasnya, dan membelokkan motor-boat besar itu kejuruan lain.”</p>
<p>Melihat peliknya usaha kita untuk merdeka, semoga bangsa Indonesia yang saat ini merasakan nikmatnya hidup berdaulat tidak melupakan peran bangsa bangsa Arab, khususnya Palestina dalam membantu perdjoeangan kita. Temen-temen, setelah baca cerita ini sayapun tidak memaksa (kalau merasa keberatan) untuk turun kejalan, memberi sumbangan dana atau apalah namannya.</p>
<p>Saya juga belum paham betul duduk permasalah yang begitu ruwet di<br />
palestina. Setidaknya kita diingatkan bahwa kenikmatan kita hari ini, tidak lepas dari bantuan moyang mereka jua????.dan saya hanya menegur diri saya sendiri, bahwa disana (palestina)sedang ada musibah kemanusiaan.</p>
<p>(posting ini dikirim oleh “a_ghofy”</p>
<p>sumber : http://muhsinlabib.wordpress.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sanggardewa.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sanggardewa.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sanggardewa.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sanggardewa.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sanggardewa.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sanggardewa.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sanggardewa.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sanggardewa.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sanggardewa.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sanggardewa.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sanggardewa.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sanggardewa.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sanggardewa.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sanggardewa.wordpress.com/54/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sanggardewa.wordpress.com&amp;blog=1606512&amp;post=54&amp;subd=sanggardewa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sanggardewa.wordpress.com/2009/01/13/cinta-indonesia-peduli-palestina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/77e977953e7ca277b51dae727e81a4f4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sanggardewa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sanggardewa.files.wordpress.com/2009/01/mughniyah.jpg?w=100" medium="image">
			<media:title type="html">mughniyah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sanggardewa.files.wordpress.com/2009/01/haniyah2.jpg?w=111" medium="image">
			<media:title type="html">haniyah2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sanggardewa.files.wordpress.com/2009/01/346px-bung_tomo11.jpg?w=86" medium="image">
			<media:title type="html">346px-bung_tomo11</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Selamat Hari Raya</title>
		<link>http://sanggardewa.wordpress.com/2008/09/28/selamat-hari-raya/</link>
		<comments>http://sanggardewa.wordpress.com/2008/09/28/selamat-hari-raya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Sep 2008 16:58:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sanggardewa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tidak terkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sanggardewa.wordpress.com/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sanggardewa.wordpress.com&amp;blog=1606512&amp;post=39&amp;subd=sanggardewa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sanggardewa.files.wordpress.com/2008/09/idul-fitri.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-40" title="idul-fitri" src="http://sanggardewa.files.wordpress.com/2008/09/idul-fitri.jpg?w=406" alt=""   /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sanggardewa.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sanggardewa.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sanggardewa.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sanggardewa.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sanggardewa.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sanggardewa.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sanggardewa.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sanggardewa.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sanggardewa.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sanggardewa.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sanggardewa.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sanggardewa.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sanggardewa.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sanggardewa.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sanggardewa.wordpress.com&amp;blog=1606512&amp;post=39&amp;subd=sanggardewa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sanggardewa.wordpress.com/2008/09/28/selamat-hari-raya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/77e977953e7ca277b51dae727e81a4f4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sanggardewa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sanggardewa.files.wordpress.com/2008/09/idul-fitri.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">idul-fitri</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cinta Adalah Keterpisahan</title>
		<link>http://sanggardewa.wordpress.com/2008/05/30/cinta-adalah-keterpisahan/</link>
		<comments>http://sanggardewa.wordpress.com/2008/05/30/cinta-adalah-keterpisahan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 May 2008 13:24:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sanggardewa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Matsnawi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sanggardewa.wordpress.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Anak – anakmu bukanlah anak – anakmu, Mereka adalah anak – anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri, Mereka lahir melalui dirimu, tetapi bukan darimu, Dan meski mereka bersamamu, mereka bukan milikmu, Kamu bisa memberikan cintamu, tetapi bukan pikiranmu, Karena mereka memiliki pikiran sendiri, Kamu bisa memberikan rumah bagi tubuhnya, tidak jiwanya, Sebab jiwa mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sanggardewa.wordpress.com&amp;blog=1606512&amp;post=26&amp;subd=sanggardewa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anak – anakmu bukanlah anak – anakmu,<br />
Mereka adalah anak – anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri,<br />
Mereka lahir melalui dirimu, tetapi bukan darimu,<br />
Dan meski mereka bersamamu, mereka bukan milikmu,</p>
<p><span id="more-26"></span><br />
Kamu bisa memberikan cintamu, tetapi bukan pikiranmu,<br />
Karena mereka memiliki pikiran sendiri,<br />
Kamu bisa memberikan rumah bagi tubuhnya, tidak jiwanya,<br />
Sebab jiwa mereka tinggal dirumah masa depan, yang tidak bisa kamu kunjungi, tidak juga dalam mimpimu<br />
Kamu bisa berusaha menjadi mereka, tetapi jangan minta mereka jadi sepertimu,<br />
Karena kehidupan tidak bisa kembali ke masa silam, tidak juga kembali ke hari kemarin<br />
Kamu adalah busur yang dengannya anak – anakmu menjadi anak panah kehidupan masa depan<br />
Sang pemanah membidik sasaran tanpa batas, dan Dia melengkapimu dengan segenap tenaga-Nya, hingga anak – anak panahnya melesat cepat dan jauh<br />
Biarlah lengkungan tangan sang pemanah menjadi suatu kebahagiaan<br />
Karena, seperti Dia mencintai anak – anak panah yang terbang, Dia juga akan mencintai busur yang dilengkungkan dengan mantap.</p>
<p>Kahlil Gibran<br />
(The Prophet, New York, Alfred A. Knopf)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sanggardewa.wordpress.com/26/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sanggardewa.wordpress.com/26/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sanggardewa.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sanggardewa.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sanggardewa.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sanggardewa.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sanggardewa.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sanggardewa.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sanggardewa.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sanggardewa.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sanggardewa.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sanggardewa.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sanggardewa.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sanggardewa.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sanggardewa.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sanggardewa.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sanggardewa.wordpress.com&amp;blog=1606512&amp;post=26&amp;subd=sanggardewa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sanggardewa.wordpress.com/2008/05/30/cinta-adalah-keterpisahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/77e977953e7ca277b51dae727e81a4f4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sanggardewa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sabar at First Strike</title>
		<link>http://sanggardewa.wordpress.com/2007/09/12/sabar-at-first-strike/</link>
		<comments>http://sanggardewa.wordpress.com/2007/09/12/sabar-at-first-strike/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Sep 2007 17:13:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sanggardewa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sanggardewa.wordpress.com/2007/09/12/sabar-at-first-strike/</guid>
		<description><![CDATA[Diriwayatkan pada suatu ketika Rasulullah SAW sedang berjalan dari suatu tempat. Di tengah perjalanan beliau SAW mendengar jeritan-jeritan yang berasal dari sebuah rumah. Ketika melewati rumah tersebut, beliau SAW mendapati ternyata suara tersebut berasal dari seorang Ibu yang tak kuasa menahan sedih karena ditinggal mati anaknya. Melihat itu, Rasulullah SAW setelah mengucap salam kemudian berkata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sanggardewa.wordpress.com&amp;blog=1606512&amp;post=23&amp;subd=sanggardewa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Diriwayatkan pada suatu ketika Rasulullah SAW sedang berjalan dari suatu tempat. Di tengah perjalanan beliau SAW mendengar jeritan-jeritan yang berasal dari sebuah rumah. Ketika melewati rumah tersebut, beliau SAW mendapati ternyata suara tersebut berasal dari seorang Ibu yang tak kuasa menahan sedih karena ditinggal mati anaknya.<br />
<span id="more-23"></span></p>
<p>Melihat itu, Rasulullah SAW setelah mengucap salam kemudian berkata kepada ibu itu: ”Sabar..bersabarlah, Wahai Ibu.”. Mendengar ucapan itu, si Ibu yang sedang bersedih itu tanpa melihat lagi siapa yang menasehati langsung bilang: ”Enak saja kau bilang begitu! Kau bisa bilang begitu karena yang mati bukan anakmu!”.</p>
<p>Mendengar jawaban ibu itu Rasul mulia SAW tidak marah. Beliau kemudian melanjutkan perjalanannya lagi. Rupanya dialog antara ibu dengan Rasulullah SAW tadi disaksikan oleh seseorang lelaki. Beberapa hari setelah itu lelaki tersebut mendatangi si Ibu tadi dan kemudian berkata: ”Apa jawabanmu terhadap seruan untuk bersabar dari seseorang yang datang waktu hari kematian anakmu yang lalu”. Si ibu yang tahu maksud pertanyaan itu menjawab: ”Aku bilang, enak aja kau bilang begitu! Kau bisa bilang begitu karena yang mati bukan anakmu!”.</p>
<p>Lelaki tersebut kemudian berkata: ”Astaghfirullah! Sangat tidak sopan jawabanmu terhadap Rasul Allah!”. Bagaikan disambar geledek, bukan kepalang terkejutnya si Ibu tadi ketika mengetahui bahwa orang yang dia hardik itu adalah Rasulullah SAW. Seketika itu juga si Ibu datang ke rumah Rasulullah SAW untuk meminta maaf.</p>
<p>Sesampainya di rumah Rasulullah SAW, ia dipersilahkan masuk. Kemudian Rasulullah SAW berkata: ”Apa maksud kedatanganmu kemari, wahai Ibu?”. Ibu itu menjawab: ”Aku bermaksud meminta maaf kepadamu atas ucapanku kepadamu tempo hari yang tidak sopan. Benar sekali nasehatmu ya Rasul, bahwa sebaiknya aku bersabar. Dan kini aku telah mengikuti anjuranmu untuk bersabar. Sekarang aku sabar, wahai Rasul Allah”.</p>
<p>Rasul mulia kemudian menjawab: ”Sabar itu adalah pada pukulan pertama.”</p>
<p>Yang dimaksud Rasulullah SAW dengan perkataan tersebut adalah bahwa kita dianjurkan untuk bersabar pada saat kita pertama menerima sebuah cobaan. Itulah kondisi-kondisi kritikal yang sangat memerlukan kesabaran tersebut. Setelah lewat masanya, sabar hanya berguna sebagai pelajaran untuk masa berikutnya. Akibat buruk karena ketidaksabaran kita telah terjadi dan tidak dapat kita putar ulang. Begitulah sabar yang dimaksudkan oleh Islam, sabar at first strike. [undzurilaina]</p>
<p>http://undzurilaina.blogspot.com/kisahhikmah</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sanggardewa.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sanggardewa.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sanggardewa.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sanggardewa.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sanggardewa.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sanggardewa.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sanggardewa.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sanggardewa.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sanggardewa.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sanggardewa.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sanggardewa.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sanggardewa.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sanggardewa.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sanggardewa.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sanggardewa.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sanggardewa.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sanggardewa.wordpress.com&amp;blog=1606512&amp;post=23&amp;subd=sanggardewa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sanggardewa.wordpress.com/2007/09/12/sabar-at-first-strike/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/77e977953e7ca277b51dae727e81a4f4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sanggardewa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>RISALAH AL WAHDAH (PESAN PERSATUAN)</title>
		<link>http://sanggardewa.wordpress.com/2007/09/12/risalah-al-wahdah-pesan-persatuan/</link>
		<comments>http://sanggardewa.wordpress.com/2007/09/12/risalah-al-wahdah-pesan-persatuan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Sep 2007 13:55:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sanggardewa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tidak terkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sanggardewa.wordpress.com/2007/09/12/risalah-al-wahdah-pesan-persatuan/</guid>
		<description><![CDATA[DALAM PERSAUDARAAN DAN PERSATUAN, KITA TIDAK LAGI MENGENAL MADZHAB TIDAK MENGENAL LAGI SYI&#8217;AH DAN AHLUSUNNAH KITA TIDAK LAGI MENGENAL ETNIS KITA TIDAK LAGI MENGENAL MASA LALU KITA TIDAK LAGI MENGENAL WARNA KULIT KITA TIDAK LAGI MENGENAL NASAB PERSATUAN ADALAH MELINTASI SEGALA-GALANYA SAUDARA KAMI ADALAH MEREKA YANG BERAKHLAQ MEREKA YANG MENGHARGAI PERBEDAAN MEREKA YANG MENGHARGAI KEYAKINAN [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sanggardewa.wordpress.com&amp;blog=1606512&amp;post=22&amp;subd=sanggardewa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>DALAM PERSAUDARAAN DAN PERSATUAN,<br />
KITA TIDAK LAGI MENGENAL MADZHAB<br />
TIDAK MENGENAL LAGI SYI&#8217;AH DAN AHLUSUNNAH<br />
KITA TIDAK LAGI MENGENAL ETNIS<br />
KITA TIDAK LAGI MENGENAL MASA LALU<br />
KITA TIDAK LAGI MENGENAL WARNA KULIT<br />
KITA TIDAK LAGI MENGENAL NASAB<br />
PERSATUAN ADALAH MELINTASI SEGALA-GALANYA<br />
<span id="more-22"></span><br />
SAUDARA KAMI<br />
ADALAH MEREKA YANG BERAKHLAQ<br />
MEREKA YANG MENGHARGAI PERBEDAAN<br />
MEREKA YANG MENGHARGAI KEYAKINAN ORANG LAIN<br />
MEREKA YANG MENGHORMATI MAKHLUK ALLAH SWT<br />
YANG DARINYA MUNCUL HIKMAH<br />
YANG DARINYA MENGINGATKAN KITA KEPADA ALLAH SWT<br />
YANG DARINYA MENGHANTARKAN KITA KEPADA RIDHA ALLAH SWT</p>
<p>ALLAHUMMA BARIKLANA FI RAJAB, SYA&#8217;BAN WA RAMADHAN&#8230;.</p>
<p>YA ALLAH<br />
BERKAHILAH NEGERI KAMI DENGAN PERSATUAN DIANTARA KAMI<br />
TUTUPLAH AIB SAUDARA-SAUDARA KAMI<br />
HILANGKANLAH RASA IRI DAN DENGKI DIANTARA KAMI<br />
FITNAH DAN KEBODOHAN<br />
TUTUPLAH KEBURUKAN SAUDARA-SAUDARA KAMI<br />
TEMAN DAN TETANGGA KAMI<br />
SAHABAT DAN GURU KAMI<br />
DAN HANTARKAN KAMI KEPADA RIDHA-MU</p>
<p>YA ALLAH<br />
JAUHKAN DARI KAMI SIKAP PERMUSUHAN DAN KEBENCIAN KEPADA SAUDARA KAMI<br />
ANUGERAHKAN KEPADA KAMI KECINTAAN KEPADA PERSATUAN DAN PERSAUDARAAN<br />
TUNTUNLAH KAMI KEPADA KEBAIKAN DAN KEBENARAN<br />
RASA HORMAT DAN KERENDAHAN HATI<br />
DAN ALIRKANLAH DARI SUDUT-SUDUT MATA KAMI<br />
AIRMATA PENYESALAN DAN KETAKUTAN</p>
<p>YA ALLAH<br />
GABUNGKAN DIRI KAMI<br />
BERSAMA PARA KEKASIH-MU<br />
ANBIYA DAN MURSALIN<br />
SHODIQIN DAN SHOLIHIN<br />
BERSAMA KEKASIHMU MUHAMMAD AL-MUSTHOFA<br />
DAN KELUARGA KEKASIHMU<br />
KAFILAH RUHANI AHLULBAIT NABI..</p>
<p>RAMADHAN MUBARAK..<br />
RAMADHAN KARIM..</p>
<p>-  MOCHAMMAD BA&#8217;AGIL  -<br />
Sunber : http://www.jalal-center.com</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sanggardewa.wordpress.com/22/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sanggardewa.wordpress.com/22/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sanggardewa.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sanggardewa.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sanggardewa.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sanggardewa.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sanggardewa.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sanggardewa.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sanggardewa.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sanggardewa.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sanggardewa.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sanggardewa.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sanggardewa.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sanggardewa.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sanggardewa.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sanggardewa.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sanggardewa.wordpress.com&amp;blog=1606512&amp;post=22&amp;subd=sanggardewa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sanggardewa.wordpress.com/2007/09/12/risalah-al-wahdah-pesan-persatuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/77e977953e7ca277b51dae727e81a4f4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sanggardewa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TAUBAT</title>
		<link>http://sanggardewa.wordpress.com/2007/09/12/taubat/</link>
		<comments>http://sanggardewa.wordpress.com/2007/09/12/taubat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Sep 2007 13:50:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sanggardewa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Meditasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sanggardewa.wordpress.com/2007/09/12/taubat/</guid>
		<description><![CDATA[Didalam bahasa Arab ada beberapa kata untuk menunjukan kata kembali. Kata yang paling kita ketahui adalah kata ‘Id atau ‘Aud, berasal dari kata ‘Âda-Ya’ûdu-’îdan-wa-’audan, yang artinya kembali. Sebagian orang mengatakan bahwa Idul Fitri artinya kembali kepada fitrah. Ada juga yang mengatakan fitr di situ berasal dari kata futhûr sehingga Idul Fitri diartikan bahwa kita kembali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sanggardewa.wordpress.com&amp;blog=1606512&amp;post=21&amp;subd=sanggardewa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Didalam bahasa Arab ada beberapa kata untuk menunjukan kata kembali. Kata yang paling kita ketahui adalah kata ‘Id atau ‘Aud, berasal dari kata ‘Âda-Ya’ûdu-’îdan-wa-’audan, yang artinya kembali. Sebagian orang mengatakan bahwa Idul Fitri artinya kembali kepada fitrah. Ada juga yang mengatakan fitr di situ berasal dari kata futhûr sehingga Idul Fitri diartikan bahwa kita kembali lagi kepada kegiatan makan siang hari seperti biasa.<br />
<span id="more-21"></span><br />
Kata lain untuk kembali dalam bahasa Arab adalah Rujû’ dari kata raja’a-yarji’u-rujû’an. Di kalangan kita kata Rujû’, yang artinya kembali, hanya digunakan khusus untuk orang yang bercerai. Jadi ada nikah, talak, rujuk. Rujû’ artinya kembali lagi, suami yang sudah pergi kembali lagi. Di dalam Al-Qur’an kata Ruju’ lebih sering digunakan untuk menunjukan kembalinya kita kepada Allah swt. Misalnya kita menyebut Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, kita semua kepunyaan Allah dan hanya kepada Dia kita semua Rujû’. Orang yang kembali disebut raji dan tempat kembali disebut marji’. Seperti dalam ayat Al-Qur’an : “Ilayya marji’ukum, Kepada Akulah kembali semua” (QS 3:55).</p>
<p>Sebelum kalimat itu Tuhan berkata: “Ittabi’ Sabîla man Anâba Ilayya Tsumma Ilayya Marji’ukum. Ikutilah jalan orang yang kembali, kepada Akulah tempat kembali semua”. Sekarang kita ketemu lagi dengan kata lain untuk kembali yaitu anâba-yunibu-inâbah. Karena keindahan Al-Qur’an, Al-Qur’an tidak mengulangi kata-kata yang sama walaupun artinya sama. Penulis yang bagus mengganti untuk makna yang sama, kata-kata yang lain untuk menunjukan keindahan. Ciri orang yang tidak begitu pintar menyusun kata-kata ialah ia mengulang terus-menerus. Sayangnya bahasa Indonesia kurang begitu kaya dibanding dengan bahasa Arab. Tidak ada kata lain untuk kembali. Sehingga kita menerjemahkan “Ittabi’ Sabîla man Anâba Ilayya Tsumma Ilayya Marji’ukum” menjadi “Ikutilah orang-orang yang kembali kepada-Ku dan kepada Akulah tempat kembali kamu semua”. Kita memakai kata kembali lagi, karena tidak ada kata lain. Sebetulnya ada kata pulang, tapi agak tidak enak. Jadi untuk kata kembali, kita tadi ada ‘Id, Ruju’, dan Inabah.</p>
<p>Satu lagi kata yang berarti kembali dalam bahasa Arab yang sangat khas adalah Taubat. Taubat berasal dari kata Tâba- Yatûbu-Taubatan. Orang yang kembali disebut Tâib dan yang kembalinya berulang-ulang dan terus-menerus disebut Tawwâb.</p>
<p>Kalau kita terjemahkan Tawwâb sebagai orang yang banyak bertaubat, maka kita akan menemukan di dalam Al-Qur’an, yang disebut paling banyak bertaubat itu bukan saja manusia tetapi juga Tuhan. Tidak hanya Makhluk tetapi juga Khalik. Misalnya Allah menyebut orang-orang yang banyak bertaubat dan senang melakukan kesucian dengan kata-kata: Innallãha yuhibbu tawwãbina wa yuhibul mutathahhirin. Sesungguhnya Allah mencintai orang yang banyak bertaubat dan memelihara kesucian dirinya” (QS 2:222).</p>
<p>Tetapi kata tawwãb juga dinisbahkan kepada Allah swt, “Innahu huwat tawwãbur rahim. Sesungguhnya Allah itu yang paling banyak bertaubat dan yang paling penyayang” (QS 2:37). Biasanya kita kebingungan kalau mengartikan bahwa Allah yang paling banyak bertaubat. Sebab dalam bahasa Indonesia, kata taubat berarti ampunan. Sehingga kalau kita baca komik, orang-orang yang dipukul akan menjerit “Tobat!”. Taubat diartikan sebagai ampunan sehingga taubat sudah kehilangan makna kembalinya. Untunglah dalam zikir-zikir kita, kita masih menyebut Allah At-Tawwãb.</p>
<p>Jadi untuk menunjukan kata kembali dalam bahasa Arab kita gunakan Id, Ruju’, Inabah dan Taubat. Di dalam tasawuf, kata taubat dan inabah itu, menunjukan dua stasiun yang berbeda, dua maqam yang berbeda. Dalam kitab Manãjilus Sãirin, dinyatakan bahwa dalam perjalanan kita menuju Allah swt, taubat adalah maqam yang kedua dan inabah adalah maqam yang keempat. Maqam yang pertama adalah yaqzhah atau kesadaran. Dalam yaqzhah itu, kita tiba-tiba disadarkan oleh Allah swt akan keburukan-keburukan yang pernah kita lakukan, akan penyia-nyiaan waktu kita selama ini, dan akan kejatuhan kita dari Allah swt. Bisa jadi kita disadarkan oleh satu kejadian yang menimpa kehidupan kita. Bisa juga kita disadarkan oleh nasihat orang lain. Bisa juga kita disadarkan karena ikut pesantren kilat. Dan bisa juga kita disadarkan karena perenungan kita sendiri. Allah mempunyai berbagai cara untuk menyadar-kan. Tapi dalam tasawuf atau menurut ayat Al-Qur’an, paling banyak orang itu disadarkan karena musibah.</p>
<p>Yang disebut yaqzhah itu kita sebut Idul Fitri. Pada waktu yaqzhah itu, kita kembali pada fitrah kita. Menurut Islam kita semua mempunyai fitrah kesucian yaitu keinginan kita untuk kembali kepada Allah swt. Keinginan itu ada jauh dalam hati kita. Allah tempatkan dalam hati kita sebuah lampu dan itu adalah lampu fitrah yang sering kali tertutup. Al-Qur’an menggambarkan hati itu seperti misykat. “Allahu nûrus samãwati wal ardh, matsalu nûrihi kamiskah, fîha misbah. Perumpamaan cahaya Allah itu seperti misykat” (QS 24:35). Misykat itu dalam bahasa Arab adalah sebuah tempat seperti mangkuk terbalik. Bayangkan kubah mesjid atau kuburan-kuburan biasanya di atasnya ada tempat seperti mangkuk terbalik.</p>
<p>Di dalam ilmu Antropologi itu menjadi pembahasan mengapa tempat-tempat ibadah selalu berupa mangkuk-mangkuk yang terbalik. Misalnya candi Borobudur, katedral-katedral, dan mesjid-mesjid. Sampai ada seorang arsitek di Bandung yang tidak suka ada kubah di mesjid, karena menurutnya itu sama dengan agama Budha. Dan ajaibnya hampir semua agama punya kecenderungan untuk menganggap sesuatu yang yang seperti mangkuk terbalik itu sebagai sesuatu yang suci. Di mihrab ada ruang seperti mangkuk terbalik ini. Kalau mihrabnya kecil dan menempel di dinding, kita simpan lampu di situ. Al-Qur’an menggambarkan hati kita itu seperti misykat dan di dalamnya ada misbah (lampu). Tetapi kebanyakan misbah kita itu tertutup. Cahaya lampu di dalam itu tidak bisa keluar, cahaya fitrah kita itu tidak bisa keluar karena tertutup dosa-dosa kita. Karena perhatian kita kepada dunia.</p>
<p>Tetapi pada orang-orang tertentu yang membersihkan hatinya secara sungguh-sungguh, misykat itu menjadi sangat cemerlang seperti kaca. Al-Qur’an mengata-kan “Kacanya itu seakan-akan bintang yang cemerlang, yang dinyalakan apinya dari pohon-pohon Zaitun yang diberkati, yang tidak di timur dan tidak di barat. Hampir-hampir minyaknya saja bersinar padahal tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya” (QS 24:35).</p>
<p>Ayat-ayat Al-Qur’an itu ada yang bisa ditafsirkan secara tasawuf, atau secara fiqih; secara lahir, dan secara batin. Tetapi ada ayat-ayat Al-Qur’an yang hanya bisa ditafsirkan secara tasawuf, secara batiniah dan tidak bisa ditafsirkan secara fikih dan lain-lain. Salah satunya itu ayat nur di atas. Imam Al-Ghazali menulis sebuah kitab berjudul Misykat Al-Anwar (misykat dari cahaya) yang isinya hanya membahas khusus ayat ini. Hakim At-Tirmidzi dan juga Syaikh Abdul Qadir masing-masing menulis sebuah kitab tentang makna ayat ini. Ayat ini jadi perbincangan di kalangan tasawuf, tapi tentu saja kita tidak akan membahasnya di sini.</p>
<p>Menurut Al-Qur’an, hati kita ini mempunyai lampu fitrah yang membawa kita kepada kesucian dan membawa kita untuk merindukan Allah swt. Kita ini berasal dari Dia dan jauh di dalam lubuk hati kita yang paling dalam, yang kita sebut fitrah, ada kerinduan kita kepada Allah swt. Tetapi kerinduan itu sering kita lupakan. Mungkin karena terpesona di tempat yang baru datang. Seperti ketika Anda merantau ke luar negeri. Pertama kali datang, Anda terpesona. Karena kehidupan yang senang, Anda tidak ingat untuk kembali. Yang memanggil kita untuk kembali itu adalah cahaya fitrah, lampu yang ada di dalam misykat hati kita. Misykat itu adalah bagian hati kita yang paling dalam dan masih menyimpan cahaya Ilahi itu. Sinarnya tidak kelihatan karena kita terlalu terpesona dengan kehidupan ini. Kerinduan itu masih ada. Lalu, kapan kerinduan itu tiba-tiba muncul dalam satu saat yang disebut yaqzhah? Kapan timbul kesadaran untuk kembali ke fitrah itu?</p>
<p>Kalau orang itu mendapat musibah, biasanya ia akan kembali kepada Allah swt. Karena itu Nabi bersabda kepada orang yang mengeluh karena musibahnya, “Sesungguh-nya tidak ada baiknya orang yang tidak pernah mendapat musibah”. Kalau mendapat musibah, orang itu biasanya kembali kepada Allah swt. Jadi musibah itu bagus, karena mengembalikan kita kepada fitrah lagi. Dengan musibah, kita mengalami Idul Fitri yang sejati, Idul Fitri yang sebenarnya. Kita kembali membersihkan misykat hati kita dan mulailah perlahan-lahan cahaya Ilahi itu keluar.</p>
<p>Al-Qur’an juga bercerita tentang yaqzhah atau kembali kepada fitrah ini dengan menggambarkan orang yang berada di dalam perahu. Ketika perahu berada di tengah lautan, tiba-tiba datang badai yang mengombang-ambingkan perahu itu. Semua kembali kepada fitrahnya, berdo’a kepada Allah dengan ikhlas. Tetapi ketika Allah mendamparkan mereka ke daratan dalam keadaan selamat, mereka kembali musyrik. Musyrik artinya meninggalkan fitrahnya lagi. Itu kata Al-Qur’an. Sekarang ini bangsa Indonesia sedang ditimpa badai. Menurut koran, banyak orang pergi ke dukun. Jadi di Indonesia ini ada dua pilihan kalau ditimpa musibah. Yang pertama kembali kepada Allah dan itulah Idul Fitri. Yang kedua ialah kembali kepada dukun.</p>
<p>Dari yaqzhah orang meningkat kepada taubat, maqam yang kedua. Dari taubat naik kepada maqam yang ketiga yaitu muhasabah. Setelah maqam muhasabah barulah maqam inabah. Yang akan kita bicarakan adalah taubat dan inabah. Kembali kepada kata taubat, kita punya istilah lain selain taubat yaitu istighfãr. Kita menyebut istighfãr juga dengan taubat. Apa perbedaan istighfãr dan taubat? Istighfãr artinya bukan kembali. Istighfãr ini berasal dari kata ghafara yang artinya menutup. Perban untuk menutup luka dalam bahasa Arab klasik, atau satu penutup kepala untuk melindungi kepala dari gangguan, semacam helm, disebut mughfar. Kalau ditambahkan alif, sin dan ta sebelum ghafara, itu berarti meminta atau mengusahakan memperoleh ghafr. Istaghfara artinya kita meminta agar di tutup dari hal-hal yang menyakitkan. Dalam Al-Qur’an kadang-kadang kita diperintahkan untuk beristighfar saja tidak disertai dengan taubat, tetapi kadang-kadang kita diperintahkan untuk beristighfar dengan disertai taubat.</p>
<p>Misalnya untuk ayat-ayat yang berisi perintah istighfar saja dan tidak ada perintah taubat di dalamnya adalah Al-Qur‘an surat 70 ayat 10 dan 11 yang berisi perintah Nabi Nuh kepada kaumnya yang dilanda musim kekeringan yang panjang. Nabi Nuh berkata: “Istighfarlah kamu kepada Tuhan-Mu, Dia Maha Pengampun. Dia menurunkan hujan dari langit. Nanti Allah akan turunkan hujan dari langit dalam jumlah yang banyak”. Contoh lainnya ialah ucapan Nabi Shaleh kepada kaumnya dalam Al-Qur‘an surat 27 ayat 46) “Sekiranya kamu beristighfar kepada Allah, maka kamu disayangi Allah” Juga dalam Al-Qur‘an surat 2 ayat 199, “Beristighfarlah kamu kepada Allah, sesunguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang”. Al-Qur‘an surat 8 ayat 33 menyebutkan, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengazab mereka, selama kamu Muhammad berada di tengah-tengah mereka. Dan sesungguhnya Allah tidak akan menurunkan azab kepada mereka, selama mereka itu istighfar”. Itu ayat-ayat perintah istighfar yang tidak disertai dengan perintah taubat.</p>
<p>***</p>
<p>Ada pula ayat-ayat yang lain di mana istighfar disertai dengan taubat. Misalnya dalam Al-Qur‘an surat 11 ayat 3, “Beristighfar-lah kamu kepada Tuhan-Mu dan bertaubatlah kamu kepada-Nya, nanti Allah akan berikan kepada kamu kehidupan yang sangat baik sampai waktu yang ditentukan”. Atau ucapan Nabi Hud kepada kaumnya dalam Al-Qur‘an surat 11 ayat 52, “Istighfarlah kamu kepada Tuhan-Mu, kemudian bertaubatlah kamu kepada-Nya. Nanti Allah akan turunkan kepada kamu hujan dalam jumlah yang banyak.” Jadi taubat itu datang setelah istighfar. Seperti ucapan Nabi Shaleh kepada kaumnya dalam Al-Qur‘an surat 11 ayat 61: “Dialah yang membuat kamu hidup di dunia ini dan menyuruh kamu memakmurkan negeri ini. Kemudian istighfarlah kamu kepada-Nya dan bertaubatlah kamu kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang dan penuh kecintaan”.</p>
<p>Lalu apa yang disebut taubat dan apa yang disebut istighfar? Istighfar artinya memohonkan maghfirah. Apa yang disebut dengan maghfirah? Menurut asal katanya, maghfirah berarti penutup. Istighfar berdasar-kan artinya bermakna bahwa kita meminta agar dijaga dari akibat-akibat dosa kita, karena setiap dosa menimbulkan akibat-akibat buruk di dalam kehidupan kita.</p>
<p>Orang-orang Hindu percaya betul dengan apa yang disebut karma. Karma itu sebetulnya akibat buruk dari dosa. Dengan istighfar kita meminta perlindungan agar kita dijaga dari akibat-akibat buruk dari dosa itu. Dengan beristighfar kita memohon kepada Allah agar akibat-akibat dosa kita itu ditutup.</p>
<p>Kalau Anda bertengkar, akibat dosanya adalah Anda akan cepat celaka. Imam Ali kw berdoa “Ya Allah ampunilah dosa-dosaku yang mempercepat kecelakaan.” Imam Ali kw ditanya “Apa ada dosa yang mempercepat kecelakaan?” “Ada,” kata Imam Ali, “yaitu memutuskan silaturrahmi.” Salah satu contoh dosa yang memutuskan silaturrahmi adalah bertengkar. Akibatnya adalah mempercepat kecelakaan. Ada pula dosa-dosa yang menyempitkan rejeki, misalnya dosa membuat fitnah, mengadu domba orang, durhaka kepada orang tua, atau menyakiti hati orang miskin.</p>
<p>Menyakiti hati orang miskin akan mendatangkan kerugian, apalagi kalau orang miskinnya itu kekasih Tuhan. Ketika kita beristighfar, kita memohon kepada Allah agar dijauhkan dari akibat-akibat dosa. Dalam bahasa Arab, akibat-akibat dosa itu disebut tabi’ah yang artinya akibat-akibat buruk dari sesuatu. Ketika kita mau makan ada satu doa, “Allãhumaj ‘alhu rizqan thayyiban lã tabi’ata lahu wa lã hisãb.Ya Allah, jadikan ini rejeki yang baik, yang tidak ada tabiahnya, tidak ada akibat-akibat buruk selanjutnya, dan tidak ada perhitungan, serta tidak ada pemeriksaan”; dilanjutkan dengan Allãhuma bãrik lanã &#8230;dan seterusnya. Umumnya kita berdoa dari Allãhuma bãrik lanã saja, karena kita tahu umumnya rejeki kita tidak thayib, ada tabi’ah-nya dan pasti dihisab. Jadi kita lupakan saja do’a itu. Tabiah berasal dari kata taba’a yang artinya mengikuti. Tabi’in artinya orang-orang yang mengikuti. Jadi Tabi’ah itu adalah hal-hal yang mengikuti sesuatu. Setelah kita berbuat dosa akan ada tabi’ah-nya, ada keburukannya dari dosa itu.</p>
<p>Orang Inggris menerjemahkan kata tabi’ah itu dengan kata consequence. Di dalam bahasa Indonesia diartikan menjadi konsekuensi. Istighfãr berarti memohon kepada Allah agar kita dipelihara dari konsekuensi dosa, dari akibat-akibat dosa, atau dari hal-hal buruk yang terjadi karena dosa kita. Sehingga Istighfãr menurut Ibnu Al-Qayyim Al-Jawjiyyah adalah memohon agar dilindungi dari keburukan atas apa yang sudah kita lakukan sebelum ini.</p>
<p>Adapun taubat berarti ruju’, kembali dari perbuatan buruk yang pernah kita lakukan sebelumnya kepada perbuatan baik. Ada ulama yang menyebutkan taubat adalah “ar-ruju’ minal mukhalafah ilal muwafaqah” Kita kembali dari menentang Tuhan kepada menyesuaikan diri dengan perintah Tuhan. Jadi, taubat berarti meninggalkan perbuatan buruk dan istighfar bermakna memohon agar kita diselamatkan dari akibat-akibat perbuat-an buruk. Meskipun demikian, belum tentu taubat itu menyelamatkan kita dari per-buatan-perbuatan buruk. Misalnya kolusi dan korupsi akan segera ditinggalkan atas saran IMF, tapi akibat-akibatnya masih terus berlangsung. Orang yang berzina, walaupun dia sudah bertobat, akibat dosa-dosanya masih akan ada. Istighfar itu memohon kepada Allah, agar akibat-akibat dari dosa itu dihapuskan Allah swt, agar kita dipelihara dari akibat dosa itu. Sekiranya kita dibukakan ke alam gaib dan kemudian kita melihat dosa-dosa kita beserta akibat dari setiap dosa itu, kita akan ketakutan. Kita akan segera ber-istighfar Astaghfirullãha abbi wa atûbu ilaihi.</p>
<p>Kita memohon supaya akibat-akibat dari dosa ini tidak berlanjut. Akibat-akibat dosa ini bisa berlanjut kepada keturunan atau kepada orang lain. Misalnya di Jerman, ibu-ibu hamil yang meminum obat penenang thalidomide, anaknya lahir cacat. Akibat dosa itu bisa mengenai orang yang bukan pelaku-nya. Bisa saja kita dipelihara dari akibat-akibat dosa, meskipun kita tidak taubat. Ada orang-orang yang terus menerus berbuat maksiat, Tuhan biarkan saja sampai waktu yang ditentukan. Al-Qur’an mengatakan: “Kami panjangkan angan-angan dia.” Bisa saja kita tidak langsung dihukum Allah, kita tidak langsung melihat akibat dosa kita ini. Dengan penuh kasih sayang, Tuhan menutupi akibat-akibat dosa kita ini. Bahkan keburuk-an-keburukan kita pun Tuhan tutupi, supaya tidak kelihatan oleh mahluk Allah yang lain. Saya sering berkata, “Kalau ada orang menjelek-jelekkan Anda, Anda tidak usah sakit hati. Karena orang itu sedang bertarung dengan Allah swt. Allah pekerjaanya adalah menutupi aib Anda dan menyebarkaan kebaikan Anda. Makin banyak orang itu menjelek-jelekkan Anda, makin banyak Allah menampakkan kebaikan Anda dan Allah pasti menang” Kerugian Anda yang suka menjelek-jelekkan orang lain itu adalah bahwa orang yang di jelek-jelekkan itu, namanya makin harum, sementara Anda sendiri bakal disempitkan rejekinya dan akan ada musibah-musibah lain untuk menyadarkan Anda. Believe it!</p>
<p>Kalau sudah begitu apa yang harus Anda lakukan? Disini ada perbincangan di antara para ulama. Kalau kita sudah memfitnah dan menggunjingkan orang lain, kita tidak usah menceritakan kepadanya kalau kita sudah memfitnah dia atau meng-gunjingkan dia. Yang harus kita lakukan adalah menyebarkan kebaikan orang yang sudah kita jelek-jelekkan. Sebagai tebusannya kita puji-puji dia, sebagaimana perilaku Allah. Kalau kita jelekkan orang, padahal kejelekan itu tidak ada padanya, itu namanya fitnah. Tapi kalau kita puji-puji orang, padahal kebaikan itu tidak ada padanya, itu namanya akhlak Allah. Karena seperti disebutkan dalam Doa Kumail, “Betapa banyaknya pujian baik dan indah, yang Kausebarkan tentang diriku, padahal aku tidak layak mendapat pujian itu”. Kalau Anda memuji orang lebih-kan dan hilangkan kejelekkannya.</p>
<p>Istighfar adalah memohonkan agar Allah swt memelihara kita dari akibat dosa-dosa kita. Karena itu dalam Al-Qur‘an disebutkan “Allah tidak akan menurunkan azab kepada mereka selama mereka ber-istighfar” (QS:8:33). Karena itu perbanyaklah beristighfar, supaya akibat-akibat dosa ini tidak menimpa kita. Nabi saw saja sering beristighfar. Sekali duduk Rasulullah saw baca istighfar sampai 70 kali. Dalam riwayat lain disebutkan 100 kali. Nabi saw memper-banyak istighfar padahal beliau adalah orang yang terpelihara dari dosa. Wirid kita adalah istighfar. Bila dosa itu terhadap Allah swt, kita harus melakukan istighfar dan taubat. Kita memohon kepada Allah agar tidak meng-hukum kita karena dosa-dosa kita dan kita lepaskan dosa-dosa yang kita lakukan. Kalau dosa itu kepada makhluk, kita juga istighfar dan taubat. Saya minta maaf kepada Anda dan hapuskan akibat-akibat dosa saya ini. Kalau masih ada tabi’ah-nya, berupa jengkel, tidak senang, marah, berarti Anda belum memaafkan secara tulus. Seperti kata Nabi Yusuf ketika memaafkan saudara-saudara-nya, “Tidak ada apa-apa lagi dalam hati saya kepada kalian pada hari ini. Semoga Allah mengampuni kalian” (QS 12:92).(*)</p>
<p>Sunber :</p>
<p>http://www.jalal-center.com/index.php?option=com_content&#038;task=view&#038;id=325</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sanggardewa.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sanggardewa.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sanggardewa.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sanggardewa.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sanggardewa.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sanggardewa.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sanggardewa.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sanggardewa.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sanggardewa.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sanggardewa.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sanggardewa.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sanggardewa.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sanggardewa.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sanggardewa.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sanggardewa.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sanggardewa.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sanggardewa.wordpress.com&amp;blog=1606512&amp;post=21&amp;subd=sanggardewa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sanggardewa.wordpress.com/2007/09/12/taubat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/77e977953e7ca277b51dae727e81a4f4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sanggardewa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tuma’ninah, sebuah syarat mencapai kekhusyu&#8217;an dalam shalat</title>
		<link>http://sanggardewa.wordpress.com/2007/09/11/tuma%e2%80%99ninah-sebuah-syarat-mencapai-kekhusyuan-dalam-shalat/</link>
		<comments>http://sanggardewa.wordpress.com/2007/09/11/tuma%e2%80%99ninah-sebuah-syarat-mencapai-kekhusyuan-dalam-shalat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Sep 2007 11:23:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sanggardewa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Meditasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sanggardewa.wordpress.com/2007/09/11/tuma%e2%80%99ninah-sebuah-syarat-mencapai-kekhusyuan-dalam-shalat/</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah riwayat menerangkan, bahwa sebelum shalat subuh , Rasulullah mempunyai kebiasaan melakukan istirahat dalam posisi tiduran miring yang disebut qailulah. Kebiasaan ini beliau lakukan pula menjelang shalat dhuhur. Relaksasi sebagaimana Rasulullah lakukan merupakan hal penting bagi orang yang hendak melakukan shalat, karena shalat merupakan perjalanan jiwa menuju Allah sehingga diperlukan persiapan yang serius namun rileks. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sanggardewa.wordpress.com&amp;blog=1606512&amp;post=17&amp;subd=sanggardewa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> Sebuah riwayat menerangkan, bahwa sebelum shalat subuh , Rasulullah mempunyai kebiasaan melakukan istirahat dalam posisi tiduran miring yang disebut qailulah.<a TITLE="1010.jpg" HREF="http://sanggardewa.files.wordpress.com/2007/09/1010.jpg"><img ALIGN="left" ALT="1010.jpg" SRC="http://sanggardewa.files.wordpress.com/2007/09/1010.thumbnail.jpg" /></a> Kebiasaan ini beliau lakukan pula menjelang shalat dhuhur. Relaksasi sebagaimana Rasulullah lakukan merupakan hal penting bagi orang yang hendak melakukan shalat, karena shalat merupakan perjalanan jiwa menuju Allah sehingga diperlukan persiapan yang serius namun rileks.</p>
<p><span id="more-17"></span><br />
Shalay berbeda dengan olahraga, karena shalat sepenuhnya bersifat terapi, baik fisik maupun jiwa. Gerakan tubuh pada waktu shalat, tidak dilakukan dengan hentakan atau gerakan keras seperti halnya orang olah raga senam dalam peregangan otot, akan tetapi gerakan shalat dilakukan dengan rileks dan pengendoran tubuh secara alamiah, seperti gerakan orang ngulet saat bangun tidur. Orang tai chi pun melakukan meditasi dengan gerakan ngulet, yaitu gerakan yang telah di pola mengikuti alur tubuh secara alami. Di dalam tuma’ninah, aspek meditasi jelas sekali. Saat berdiri, benar-benar berdiri. Bukan berdiri seperti orang ber-upacara bendera atau berdiri seperti orang latihan karate, tetapi berdirilah yang tenag dan kendor agar seluruh organ tubuh berada dalam posisinya secara alami. Anda bias merasakannya pada saat anda berdiri di tepi pantai melihat pemandangan yang indah, debur ombak bergulungan menghampiri sampai menyentuh kaki anda. Saat itu tubuh anda sangat rileks, seluruh organ tubuh menempati posisnya. Anda berdiri nyaman dan santai, seperti berdirinya anak kecil usia balita.Berdirinya orang dewasa terlihat kaku dan terpola oleh pikirannya, karena menganggap jika berdiri seharusnya seperti peragawan/wait, tegap seperti militer, atau seperti berdirinya orang sedang memamerkan baju yang baru dibelinya dari Paris, arloji dari Swiss, serta sepatu kulit dari dari Italia. Postur orang dewasa inilah yang membuat orang gampang merasa jenuh dan stress karena berdiri tidak secara alami. Banyak dokter terkemuka menyakini bahwa penyakit-penyakit modern dan penuaan dini antara lain disebabkan oleh ketidakmampuan orang dalam menghadapi stress.</p>
<p>Kebanyakan dari kita telah lupa tentang bagaiman caranya rileks. Padahal kita mengetahuinya secara naluriah semasa bayi, namun pelan-pelan melupakannya ketika kita tumbuh menjadi dewasa. Sementara itu, kecepatan dan tekanan hidup modern mulai membuat kita lelah. Jika anda mempunyai kecenderungan untuk menjadi terlalu intelek, belajarlah untuk berpindah kesisi emosional dan intuisi alamiah anda dengan menjadi lebih terbuka dan menerima apa yang dikatakan hati nurani anada, yaitu ikhlas. Suatu sikap yang diajarkan islam, yang bermakna rileks yang paling dalam seperti yang pernah kita lakukan saat masih bayi.</p>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wa alihi wasallam melakukan shalat dengan tuma’ninah (rileks), yaitu sikap tenag atau diam sejenak sehingga dapat menyempurnakan perbuatannya, dima posisi tulang dan organ tubuh lainnya dapat berada pada tempatnya dengan sempurna.</p>
<p>Kebanyakan orang mengira, bahwa jumlah bacaan dalam setiap gerakan shalat dijadikan sebagai ukuran waktu selesainya sikap berdiri, duduk, rukuk, maupun sujud. Padahal bacaan itu bukanlah sebuah aba dalam shalat kita. Setiap bacaan yang diulang-ulang merupakan aspek meditasi, autoterapi, autosugesti, berdo’a, mencari inspirasi, penyembuhan, menunggu intuisi atau petunjuk, bahkan untuk menemukan sebuah ketenangan yang dalam. Akibatnya bias jadi lamanya berdiri mencapai lima menit, duduknya lia menit, sujudnya sepuluh menit, sehingga lamanya shalat bias mencapai lebih dari setengah jam. Apalagi shalat bukan hanya untuk menterapi mental tetapi juga untuk menterapi fisik agar bias kendor dan rileks. Tentunya tidak mungkin dilakukan deng terburu-buru, karena aspek meditatif dalam shalat tidak akan ditemukan. Jika dilakukan dengan tuma’ninah, selepas dari shalat kita akan mendapatkan apa yang dikatakan oleh muadzdzin sebagai sebaik-baik amal (hayya ala khoiril amal) atau peak experience.</p>
<p>Mengacu pada Rasulullah, beliau melakukan I’tidal lama sekali sehingga oleh para jama’ahnya dikira beliau lupa. Padahal bacaan yang di baca pendek sekali dan bisa dilakukan dengan cepat, Rasulullah melakukannya dengan berdiri cukup lama. Juga pada saat duduk, beliau melakukannya lama sekali sehingga juga dikira lupa.</p>
<p>Pada saat duduk (iftirasy)  sebenarnya beliau sedang melakukan dialok untuk menyelesaikan persoalan yang dirasa rumit untuk dipecahkan. Pada saat itulahbeliau sedang menunggu jawaban atas kesulitan yang beliau alami. Mengapa kita tidak mengambil pelajaran dari cara beliau dengan menjadikan shalat sebagai alat untuk berkomunikasi dan memohon pertolongan kepada Allah, serta tempat untuk mengistirahatkan jiwa dan fisik. Apabila kita telah melakukan shalat dengan benar, dengan cara relaksasi yang dalam dan penyerahan yang total kepada Allah, mak tidaklah mungkin orang yang sudah melakukan shalat akan berhati kasar atau pikirannya melonjak-lonjak karena tidak tenang.</p>
<p>Menurut hasil penelitian Alvan Goldstein, ditemukan adanya zat endorphin dalam otak manusia yaitu zat yang memberikan efek menenangkan yang disebut endogegonius. Drs. Subandi MA menjelaskan, bahwa kelenjar endorfina dan enkafalina yang di hasilkan kelenjar pituitrin di otak ternyata mempunyai efek yang mirip dengan opiate (candu) yang memiliki funngsi menimbulkan kenikmatan (pleasure principle), sehingga disebut opiate endogen. Apabila seseorang dengan sengaja memasukkan zat morfin ke dalam tubuhnya maka akan terjadi penghentian produksi endorphin. Pada pengguna narkoba, apabila dilakukan penghentian morfin dari luar secara tiba-tiba, orang akan mengalami sakau (ketagihan yang menyiksa dan gelisah) karena otak tidak lagi memproduksi  zat tersebut. Untuk mengembalikan produksi endorphin di dalam otak bias dilakukan dengan meditasi, shalat yang benar atau melakukan dzikir-dzikir yang memang banyak memberikan dampak ketenangan.*</p>
<p>Orang yang melakukan shalat dengan tenang dan rileks akan menghasilkan energi tambahan dalam tubuhnya, sehingga tubuh merasa fesh. Itulah sebabnya mengapa Rasulullah begitu yakin bahwa shalat merupakan jalan yang ampuh untuk mengubah perilaku manusia, yang tidak baik menjadi berakhlaq mulia. Sebagaimana Allah menegaskan dalam kitab al-Qur’an :</p>
<p>“Sesungguhnya ahalat memiliki kekuatan mengubah perilaku manusia dari perbuatan keji dan munkar.” (al-Ankabuut 29:45)</p>
<p>Bisa dimengerti, mengapa shalat jika dilakukan dengan benar mampu mengubah perilaku manusia menjadi baik dan bermoral. Rasulullah telah memberikan teknik alamiah yang di butuhkan fisik dan jiwa secara alamiah. Saat tubuh kita capek dan stress, Rasulullah telah memberikan terapi fisik berupa hydrp-therapy(terapi air), dengan menggunakan air wudhu. Lalu disunahkan pula menaburi wewangian pada tubuh yang akan memberika efek relaksasi pada pikiran (aroma therapy). Hal ini juga banyak dilakukan oleh para pelaku meditasi di timur sebelum mereka melakukan meditasi. Bahkan dewasa ini, banyak rumah-rumah spa telah menyediakan aroma therapy dengan esensi bunga-bunga maupun rempah-rempah untuk memberikan ketenangan dan kesegaran bagi tubuh maupun pikiran. Juga disediakan terapi air, dengan cara mengguyur bagian-bagian tubuh seperti kaki, tangan, kepala yang akan memberikan rasa segar dan menurunkan suhu badan yng terjadi akibat terlalu lelah atau penat (stress).</p>
<p>Sebaiknya kita harus sudah merubah paradigma dari teosentris menjadi antroposentris. Kita yang seharusnya butuh Allah, bukan Allah yang butuh kita, sehingga kita akan merasakan bahwa beribadah adalah sesuatu yang memang dibutuhkan oleh jiwa, puikiran dan fisik kita. Shalat menjadi sesuatu yang mengasyikkan dan menyenangkan. Namun terkadang kita masih seperti anak kecil yang takut kepada orang tuanya. Saat jam makan kita dicari-cari, diwajibkan makan siang. Pagi-pagi pun kita siap menyiapkan diri, mandi, sarapan, lalu berangkat ke sekolah. Seolah seluruh aktifitas dilakukan untuk memenuhi kewajiban berbakti kepada keinginan orang tua kita, sehingga ada rasa takut pada saat jam makan, jam berangkat sekolah, dan waktunya mandi di sore hari. Akibatnya, kita merasa bersalah kepada orang tua apabila kita tidak sempat makan siang. Padahal itu merupakan kesalahan yang akan berdampak kepada diri sendiri, yang dapat menyebabkan kita sakit.</p>
<p>Memang agak sulit untuk mengubah suatu kebiasaan yang sudah mengakar dan mendarah daging dari budaya kita. Namun kita mencoba mempraktikan latihan-latihan dzikir dan shalat untuk menemukan rasa yang telah lama hilang. Dengan kesadaran baru yang kita bangkitkan, insya Allah dari sekarang dan seterusnya shalat akan menjadi tempat kita bercengkerama dengan Allah, karena Dialah pusat ilmu pengetahuan, sumber kehidupan, dan pusat perencanaan kehidupan dari seluruh mahkuk.</p>
<p>“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, yaitu orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (al-Baqarah : 45-46)</p>
<p>Cara memasuki shalat, menurut ayat tersebut diatas, dalam bentuk praktek adalah seperti di bawah ini :<br />
1.	Heningka pikiran anda agar rileks. Usahakan tubuh anda tidak tegang. Tak perlu mengkonsentrasikan pikiran sampai mengerutkan kening karena anda akan merasakan pusing dan capek. Jika terjadi seperti itu, kendorkan tubuh anda sampai terasa nyaman kembali.<br />
2.	Biarkan tubuh meluruh, agak dilemaskan, atau bersikap serileks mungkin.<br />
3.	Kemudian rasakan getaran kalbu yang bening dan sambungkan rasa itu kepada Allah. Biasanya kalau sudah tersambung, suasana sangat hening dan tenang, serta terasa getarannya menyelimuti jiwa dan fisik. Getaran jiwa inilah yang menyambungkan kepada Zat, yang menyebabkan pikiran tidak liar kesana kemari.<br />
4.	Bangkitkan kesadaran diri, bahwa anda sedang berhadapan dengan Zat Yang Maha Kuasa, Yang Meliputi Segala sesuatu, Yang Maha Hidup, Yang Maha Suci dan Yang Maha Agung. Sadari bahwa anda akan memuja dan bersembah sujud kepada-Nya serendah-rendahnya, menyerahkan segala apa yang ada pada diri anda. Biarkan ruh anda mengalir pergi, dengan suka rela menyerahkan diri : “Hidup dan matiku hanya untuk Allah semata”.<br />
5.	Berniatlah dengan sengaja dan sadar sehingga muncul getaran rasa yang sangat halus dan kuat menarik ruhani meluncur kehadirat-Nya. Pada saat itulah ucapkan takbir “ALLAHU AKBAR”. Jagalah rasa tadi dengan meluruskan niat, rasakan kelurusan jiwa anda yang terus bergetar menuju Allah. Setelah itu, menyerahlah secara total, inna shalati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbil ‘alamin(sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah semata).<br />
6.	Rasakan keadaan berserah yang masih menyelimuti getaran jiwa anda, dan mulailah perlahan-lahan membaca setiap ayat dengan tartil. Pastikan anda masih merasakan getaran pasrah saat membaca ayat di hadapan-Nya. Kemudian lakukanlah ruku’. Biarkan badan anda membungkuk dan rasakan. Pastikan bahwa ruh anda perlahan-lahan turut ruku’ dengan perasaan hormat dan pujilah Allah Yang Maha Agung dengan membaca: “subhaana rabbiyal adhiimi wabihamdihi”. Jika antara ruhani dengan fisik anda telah seirama, maka getaran itu akan bertambah besar dan kuat, dan bertambah kuat pula kekhusyu’an yang terjadi.<br />
7.	Setelah rukuk, anda berdiri kembali perlahan sambil mengucapkan pujian kepada Zat Yang Maha Mendengar:”samiallahu liman hamidah” (semoga Allah mendengar orang yang memuji-Nya). Rasakan keadaan ini sampai ruhani anda mengatakan dengan sebenarnya. Jangan sampai sedikitpun tersisa dalam diri anda rasa untuk ingin dipuji, yang terjadi adalah keadaan nol, tidak ada beban apa-apa kecuai rasa hening.<br />
8.	Kemudian secara perlahan sambil tetap berdzikir:”Allahu Akibar”, bersujudlah serendah-rendahnya. Biarkan tubuh anda bersujud, rasakan sujud anda agak lama. Jangan mengucapkan pujian kepada Allah Yang Maha Suci, subhaana rabbiyal a’la wabihamdihi, sebelum ruh dan fisik anda bersatu dalam satu sujudan. Biasanya terasa sekali ruhani ketika memuji Allah dan akan berpengaruh kepada fisik, menjadi lebih tunduk, ringan dan harmonis.<br />
9.	selanjutnya, lakukanlah shalat seperti di atas dengan pelan-pelan, tua’ninah pada setiap gerakan. Jika anda melakukannya dengan benar, getaran jiwa akan bergerak menuntun fifsik anda. Sempurnakn kesadaran shalat anda sampai salam.</p>
<p>Sehabis shalat, duduklah dengan tenang. Rasakan getaran yang masih membekas pada diri anda. Ruhani anda masih merasakan getaran takbir, sujud, rukuk, dan penyerahan diri secara total. Kemudian pujilah Allah dengan memberikan pujian itu langsung tertuju kepada Allah, agar jiwa kita mendapatkan energi Ilahi serta membersihkannya.</p>
<p>Allahu Akbar … Allahu Akbar … Allahu Akbar …<br />
Alhamdulillah … Alhamdulillah … Alhamdulillah …<br />
Subhanallah … Subhanallah … Subhanallah …<br />
Asyhadu anlaa ilaha illallah Wa asyhadu anna muhammdarrasulullah<br />
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un<br />
La haula wa la quwwata illa billahil a’liyyil adhiim</p>
<p>“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalatmu, ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk, dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasakan tenang, maka dirikanlah shalat (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (an-Nisa’: 103)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sanggardewa.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sanggardewa.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sanggardewa.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sanggardewa.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sanggardewa.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sanggardewa.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sanggardewa.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sanggardewa.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sanggardewa.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sanggardewa.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sanggardewa.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sanggardewa.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sanggardewa.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sanggardewa.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sanggardewa.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sanggardewa.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sanggardewa.wordpress.com&amp;blog=1606512&amp;post=17&amp;subd=sanggardewa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sanggardewa.wordpress.com/2007/09/11/tuma%e2%80%99ninah-sebuah-syarat-mencapai-kekhusyuan-dalam-shalat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/77e977953e7ca277b51dae727e81a4f4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sanggardewa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membangun Jati Diri</title>
		<link>http://sanggardewa.wordpress.com/2007/09/07/wwwislamalternatifnet/</link>
		<comments>http://sanggardewa.wordpress.com/2007/09/07/wwwislamalternatifnet/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Sep 2007 16:57:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sanggardewa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Spiritual]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sanggardewa.wordpress.com/2007/09/07/wwwislamalternatifnet/</guid>
		<description><![CDATA[Sebagian kalangan beranggapan bahwa kedua modal yang dimilikinya itu sudah cukup sehingga ia tidak perlu berhubungan dengan orang lain dan menimba ilmu dari orang lain. Sebagian lagi selalu ingin membandingkan dan membenturkan pandangannya dengan pandangan orang lain. Sudah pasti, kelompok kedualah yang akan menemukan kebenaran. Bukankah Imam Ali as pernah bersabda: “Benturkan sebagian pandangan yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sanggardewa.wordpress.com&amp;blog=1606512&amp;post=16&amp;subd=sanggardewa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagian kalangan beranggapan bahwa kedua modal yang dimilikinya  itu sudah cukup sehingga ia tidak perlu berhubungan dengan orang lain dan menimba ilmu dari orang lain. Sebagian lagi  selalu ingin membandingkan dan membenturkan pandangannya  dengan  pandangan orang lain. Sudah pasti, kelompok kedualah yang akan menemukan kebenaran. Bukankah Imam Ali as pernah  bersabda: “Benturkan sebagian pandangan yang kalian miliki dengan pandangan yang lain; maka akan muncul kebenaran”. Maksud dari hadis ini adalah bahwa perkembangan sebuah ilmu dapat diperoleh melalui tanya-jawab, kritik, sanggahan dan lain sebagainya. Oleh karena itu, orang yang memperoleh ilmu melalui penelitian dan menganalisa sebuah pandangan akan memiliki nilai tambah dari sisi keilmuannya.<br />
<span id="more-16"></span><br />
Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa manusia ibarat  tambang emas dan perak. Di dalam hadis  lain, Rasulullah saww  mensifati ilmu sebagai mata air yang jika seorang penuntut ilmu bersandar kepada Allah maka kebaikan dan berkah Allah akan mengalir baginya. Dari dua hadis ini dapat disimpulkan bahwa sebagai mahluk, manusia tidak diciptakan tanpa modal  dan background apapun. Ilmu yang didapatkan manusia dari lembaga pendidikan formal atau non formal, hauzah maupun universitas merupakan modal dan simpanan bagi diri manusia. Di dalam diri manusia tersimpan rahasia yang dapat diungkapkan. Dalam surat an-Nahl/78, Allah swt berfirman: “Allah telah mengeluarkan kalian dari perut ibu sedangkan kalian tidak mengetahui apa-apa”.</p>
<p>Pengertian ilmu yang disinggung dalam ayat ini adalah ilmu hushuli yang didapatkan dari buku atau  guru. Ketika segala sesuatu (termasuk ilmu) disandarkan kepada Allah maka ia tidak akan pernah kosong dalam diri manusia. Hal ini disinggung dalam ayat 29 Surah Hijr, ketika Allah berfirman: “Dan Aku tiupkan ruh-Ku kepadanya”. Ayat ini  tidak berbicara tentang nabi Adam saja sebagai makluk pertama Allah yang  diciptakan di muka bumi,  akan tetapi ayat ini  berbicara tentang seluruh  umat manusia sepanjang masa. Kata ruh dalam ayat tersebut kembali kepada Allah swt, ketika Dia meniupkan ruh-Nya kepada manusia maka manusia dengan ruh yang ditiupkan tersebut akan mampu menyandang kesempurnaan yang dimiliki-Nya. Dan salah satu bentuk kesempurnaan yang dimiliki-Nya adalah ilmu dan pengetahuan. Hadis di atas ingin menjelaskan bahwa sejak awal penciptaannya, manusia sudah disiapkan dan dibekali sesuai dengan kapasitasnya; bagaikan wadah yang siap menampung air. Ketika manusia selalu mencari nilai-nilai kesempurnaan (ilmu) maka peluang wadah untuk mendapatkan anugrah Ilahi akan semakin besar; anugrah yang dapat dinikmati dan dimanfaatkan  bagi dirinya dan orang lain. Namun, jika modal pemberian Allah tersebut hilang disebabkan  kebodohan teoritis atau kebodohan praktisnya maka wadah tersebut lambat laun akan   mengecil dan bahkan akan sirna.</p>
<p>Dalam salah satu ucapan penuh makna, Imam Ali as bersabda: “Sesungguhnya hati adalah wadah dan sebaik-baik  wadah adalah yang diisi dan dipenuhinya”. Sebaik-baiknya hati adalah hati yang selalu ditanami nilai-nilai kesempurnaan dan salah satu bentuk dari kesempurnaan  tersebut adalah ilmu. Oleh karena itu, pada hakikatnya manusia telah diciptakan dengan dua modal: hatiyang selalu aktif dan potensi yang jika keduanya dikembangkan untuk mencari nilai-nilai ilmu, maka manusia akan menjadi  mishdak dari hadis di atas. Sedangkan seseorang yang tidak menggunakan dan mengembangkan keduanya,  lalu apa yang bisa diharapkan darinya?</p>
<p>Sebagian kalangan beranggapan bahwa kedua modal yang dimilikinya  itu sudah cukup sehingga ia tidak perlu berhubungan dengan orang lain dan menimba ilmu dari orang lain. Sebagian lagi  selalu ingin membandingkan dan membenturkan pandangannya  dengan  pandangan orang lain. Sudah pasti, kelompok kedualah yang akan menemukan kebenaran. Bukankah Imam Ali as pernah  bersabda: “Benturkan sebagian pandangan yang kalian miliki dengan pandangan yang lain; maka akan muncul kebenaran”. Maksud dari hadis ini adalah bahwa perkembangan sebuah ilmu dapat diperoleh melalui tanya-jawab, kritik, sanggahan dan lain sebagainya. Oleh karena itu, orang yang memperoleh ilmu melalui penelitian dan menganalisa sebuah pandangan akan memiliki nilai tambah dari sisi keilmuannya.</p>
<p>Lebih jauh lagi, jika sebuah masyarakat mampu bersama-sama  melakukan tugas yang ditetapkan oleh para nabi maka masyarakat tersebut akan  menciptakan sebuah revolusi budaya spektakuler. Bukankah salah satu misi para nabi sebagai utusan Allah adalah menciptakan revolusi budaya umat manusia. Dan revolusi ini akan terwujud ketika hati manusia bangkit dan tergerak, kembali dan  kepada fitrah penciptaannya. Imam Ali as  bersabda: “Dan peranan mereka—para nabi—adalah  mengerakkan hati-hati manusia”. Revolusi budaya yang  merupakan salah satu tujuan diutusnya para nabi akan selalu menjadi tugas besar bagi umat manusia yang ingin menuju pada kesempurnaan.</p>
<p>Lalu bagaimana proses menuju pada kesempurnaan tersebut? Al-Quran memrintahkan; lakukanlah sesuatu yang bisa kamu lakukan! Janganlah  berbuat makar/tipu daya. Dalam surat Anfal/29, Allah berfirman: “Jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqaan” (petunjuk yang dapat membedakan antara yang baik dan buruk). Jika saja manusia menjadi ahli taqwa dan furqaan maka Allah akan memberikan kepadanya kemampuan dan kekuataan. Tapi  mengapa begitu banyak manusia yang larut dalam kebinggungan serta sulit untuk membedakan antara yang hak dan yang batil? Mengapa dari sekian aliran yang beragam manusia tidak mampu mengenali  kebenaran?</p>
<p>Untuk mengatasi masalah di atas, ada dua jalan yang dapat ditempuh yaitu makrifatullsh atau jalan fitrah yang tertanam dalam hati manusia. Ketika seseorang telah mengetahui mana jalan yang benar lalu ia mengikuti jalan tersebut dan itulah hasil akhir dari penelitiannya, maka Allah pasti tidak akan menyia-nyiakan perbuatannya: &#8220;Dan barang siapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberikan petunjuk kepada hatinya.&#8221; (At-Thaghabun/11)</p>
<p>Batas antara kebenaran dan kebatilan adalah hal pertama yang harus dikenali dan diketahui. Manusia sering kali terjebak dan terperosok dalam menentukan kebenaran dan kebatilan dan menganggap bahwa kebenaran dan kebatilan harus selalu dilihat dari figur seseorang, kuantitas dan lain sebagainya. Sebagai contoh, dalam perang Jamal dikisahkan bahwa Haris bin Haut bertanya kepada Amirul mukminin Ali as: “Apakah mereka yang memerangi kita berada dalam kebatilan sedang kita berada dalam kebenaran?”.  Imam menjawab: “Sungguh kamu hanya melihat kecbawah dan tidak melihat ke atas sehingga kamu kebinggungan!” Imam ingin mengajarkan kepada sahabatnya bahwa dengan melihat standar dan tolak ukur  kebenaran dan kebatilan baru kita dapat mengetahui siapa yang berada dalam garis kebenaran dan siapa yang berada dalam garis kebatilan.</p>
<p>Tugas penting kita adalah memahami sebuah kebenaran dan lebih baik lagi jika kita selalu seiring dan sejalan dengan kebenaran dan dapat menjadi ahli daohir dan ahli batin. Itulah sebabnya mengapa dalam Surat Ruum/7, al-Quran menyinggung: “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka lalai akan (kehidupan) akherat.” Ayat ini memberikan indikasi bahwa akherat adalah batinnya dunia dalam artian bahwa dzahir dunia yang kita lihat dan kita rasakan ternyata memiliki batin, namun kita melalaikannya sehingga kita tidak dapat merasakan keberadaannya.</p>
<p>Untuk mencapai kesempurnaan tersebut, di perlukan sarana, salah satunya adalah dengan menuntut ilmu yang dibarengi dengan keikhlasan dalam ucapan maupun amal. Bukankah ilmu ibarat cahaya dalam kegelapan yang menerangi jiwa?. Dengan demikian apakah cahaya yang kita dapati itu dengan mudah kita buang dan jual dengan harga yang rendag?. Dengan menuntut ilmu akan kita dapati hal-hal yang kita tidak dimiliki sebelumnya dan dengan itu maka dan kedzoliman akan sirna bagaikan buih yang terhempas ombak air. Allah swt berfirman: “Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia maka ia tetap di bumi. [Ar-Raad/17]</p>
<p>Mudah-mudahan kita mampu mengoptimalkan segala potensi yang kita miliki dengan mencari kesempurnaan ilmu dan mengamalkannya sehingga kita sampai kepuncak kebenaran dan dapat mewujudkan misi yang dibawa oleh para nabi dan menjadi pelanjut mereka di muka bumi.[]</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam<br />
Oleh: Abdurahman Arfan<br />
Dikutip dari : www.islamalternatif.net</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sanggardewa.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sanggardewa.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sanggardewa.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sanggardewa.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sanggardewa.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sanggardewa.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sanggardewa.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sanggardewa.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sanggardewa.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sanggardewa.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sanggardewa.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sanggardewa.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sanggardewa.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sanggardewa.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sanggardewa.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sanggardewa.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sanggardewa.wordpress.com&amp;blog=1606512&amp;post=16&amp;subd=sanggardewa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sanggardewa.wordpress.com/2007/09/07/wwwislamalternatifnet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/77e977953e7ca277b51dae727e81a4f4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sanggardewa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Yaqzhah: Awal Jenjang Kearifan</title>
		<link>http://sanggardewa.wordpress.com/2007/09/05/yaqzhah-awal-jenjang-kearifan/</link>
		<comments>http://sanggardewa.wordpress.com/2007/09/05/yaqzhah-awal-jenjang-kearifan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Sep 2007 06:18:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sanggardewa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Meditasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sanggardewa.wordpress.com/2007/09/05/yaqzhah-awal-jenjang-kearifan/</guid>
		<description><![CDATA[ (Oleh: Ammar Fauzi Heryadi) &#8220;Kesadaran ini disebut para arif dengan yaqdzah, sebagai langkah dan maqam pertama setiap pesuluk. Ia adalah insaf, yaitu mau memahami diri sendiri, apa adanya, secara jujur dan tulus. Sebaliknya, ketidaktahuan dan kemasabodohan akan kesadaran itu disebut para ahli Logika sebagai jahal murakkab, artinya kebodohan kuadrat. Artian ini memang terasa kasar oleh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sanggardewa.wordpress.com&amp;blog=1606512&amp;post=13&amp;subd=sanggardewa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> (Oleh: Ammar Fauzi Heryadi)<br />
&#8220;Kesadaran ini disebut para arif dengan yaqdzah, sebagai langkah dan maqam pertama setiap pesuluk. Ia adalah insaf, yaitu mau memahami diri sendiri, apa adanya, secara jujur dan tulus. Sebaliknya, ketidaktahuan dan kemasabodohan akan kesadaran itu disebut para ahli Logika sebagai jahal murakkab, artinya kebodohan kuadrat. Artian ini memang terasa kasar oleh emosi, tapi sungguh tersentuh lembut oleh akal waras&#8221;<br />
<span id="more-13"></span><br />
Silverstein, novelis asal Amerika, pernah berkias, &#8220;Ikan kecil yang memangsa ikan teri, akan dimangsa oleh ikan besar. Ketika itu, hanya ikan paling besar yang bisa bertahan gemuk. Tentunya, ada manusia-manusia semacam itu dalam masyarakat.&#8221;<br />
Masyarakat apakah itu? Silverstein hanya melaporkan sebuah corak kehidupan, paling tidak tentang negerinya sendiri, kepada kita.<br />
Mungkin ada baiknya kita mengingat ikan-nya Jalaluddin Rumi, pujangga Parsi yang arif. Kiasnya, ikan-ikan itu hidup dalam toples air. Sedemikian jernihnya air itu, mereka lupa akan arti hidup dan air. Hanya ikan yang meloncat keluar yang mampu kembali sadar.<br />
Jawab Rumi, manakala manusia lupa diri dan hidupnya, ia akan siap ditumbal atau menumbal manusia lain. Masyarakat yang tertata dengan pola hidup ini, adalah cangkokan sekumpulan manusia-manusia itu. Tak ubahnya dengan kawanan srigala. Dalam parodinya yang mengenaskan, Tomas Hobbes menuntaskan, Homo Homini Lupus.<br />
Kilau dunia bak jernihnya air itu. Ditambah hasrat yang tak terpuaskan, manusia terus mengejar pijar-pijarnya. Rentetan benturanpun meletup-letup di sepanjang pengejaran, sebanyak jumlah gelombang hasrat di setiap dada. Ketika ada yang menang, ketika itu pula harus ada tumbal. Dulu, orang terpaksa diseret jadi tumbal. Sekarang, modernitas yang hedonis membuat mereka dengan bebas dan suka rela memilih jadi tumbal (kapital), secara alienatif, atau bahkan nihilis.<br />
Apapun tumbal-menumbal, tidak ada perintah menumbalkan diri, tidak ada izin menyia-nyiakan diri, tidak ada sudi menghancurkan diri, dari siapapun. Karena, diri setiap orang adalah totalitas wujudnya yang tak bisa ditawar. Maka, persoalan di dalam toples ikannya Rumi itu cukup jelas, Apakah aku? Apakah hidup? Apakah totalitas wujudku?<br />
Dunia Kita<br />
Anthony Giddens di pengantar bukunya, Modernity and Self Identity, mengingatkan bahwa modernitas pada dasarnya melahirkan perbedaan, pendepakan (kualifikasi) dan marginalisasi. Kalaulah perbedaan dipandang wajar, dua implikasi berikutnya mampu membiakkan sejumlah resiko yang mengerikan. Menurutnya, di dunia modern terkini (high modernity), resiko itu tidak nampak. Tapi itu semua sangat potensial terjadi. Giddens mengkhawatirkan persaingan industri persenjataan, pencemaran lingkungan, pemberangusan total tatanan-tatanan ekonomi dunia, dan akhirnya kebangkitan kekuatan totalitarian.<br />
Kapan terjadi? Kapan saja, secepat perubahan dunia ini yang disebutnya mirip pelari sprint. Maka, setiap saat bisa terjadi pendepakan, seketat tenggat dari satu aksi marginalisasi ke lainnya, dengan menebar luas ekses-eksesnya, seluas arti globalisasi.<br />
Kekhawatiran Giddens bukan yang pertama kalinya. Persis satu abad silam, pengagas Hadiah Nobel, Alfred Nobel, dalam surat wasiatnya tertanggal 27 November 1895, ia menulis bahwa Hadiah Nobel harus diberikan kepada karya -yang merujuk pada Discovery, invention, atau improvement- yang &#8220;bermanfaat bagi kemanusiaan&#8221;. Keinginan untuk memberikan hadiah itu berawal dari kesadaran Alfred akan dahsyatnya daya rusak dinamit, setelah lama ia percaya penemuan dinamit sebagai lambang perdamaian. Namun, sampai kematiannya, dia tidak pernah menyaksikan perdamaian benar-benar terwujud di muka bumi. Bahkan formula temuannya itu dipakai sejumlah pihak untuk merusak perdamaian. Hingga setengah abad kemudian, Adorno dan Horkheimer menegaskan kekuatiran Alfred sambil berijma&#8217;, bahwa &#8220;Permasalahan terpenting di dunia sekarang ini adalah, bagaimana kita bisa mengendalikan teknologi?&#8221; untuk lalu menganjurkan &#8220;kita semua harus mengerahkan segala usaha dan kemampuan kita&#8221;.<br />
Akan menjadi lebih bijak untuk tidak menanti lebih dari gereget dua post-modernis itu. Wajar jika dua tokoh mazhab Frankfurt itu lebih menekankan ke-bagaimana-an ketimbang ke-apa-an. Mereka hidup di pusaran air suatu toples yang sarat dengan Positifisme dan Pragmatisme, dua arus pemikiran yang tidak mau memahami &#8220;Apakah&#8221;.<br />
Punah atau belum, tidak lagi penting. Yang jelas, Giddens lebih tahu sejauh mana ekses-ekses keduanya merembas ke dalam cara hidup dan pola berfikir di toplesnya atau di toples-toples lainnya.<br />
Apakah pola hidup dan logika berfikir positifistik dan pragmatis berikut eksesnya mesti dikhawatirkan atau disambut?<br />
Jelas, jarak antara bagaimana dan apakah sangat rentang. Apakah berbincang tentang esensi, bagaimana membicarakan instrumen. Apapun instrumen itu, tidak punya nilai dan tidak perlu penilaian. Suatu alat dan cara hanya akan bernilai ketika dikaitkan dengan pelaku dan objektifnya. Jika mempersoalkan cara mengendalikan teknologi untuk perdamaian, maka persoalan yang tidak terpisahkan adalah apakah perdamaian yang sesungguhnya? Jika menganjurkan optimalisasi instrumen, alat, kemampuan dan upaya, maka tidak akan mungkin dilakukan selama pelaku sains, teknologi dan dinamit tidak pernah diusik; apakah pelaku? Instrumen tergantung pada pelaku. Ia hanya akan mengarahkan dan mengendalikan instrumen yang digenggamnya searah dengan pemaknaannya tentang dirinya sendiri dan fungsi instrumen.<br />
Kita selalu mendambakan kebaikan dan kedamaian. Faktanya, kedamaian dan kebaikan itu beragam, sebanyak pemaknaan setiap kepala tentangnya. Arah gerak dan modus operandi menempuh kebahagian ditentukan oleh pengertian kita akan kebagaiaan itu sendiri. Tumbal-menumbal yang terjadi akhir-akhir ini karena bedanya pemaknaan HAM, kebebasan, perdamaian, demokrasi, terorisme, seiring dengan perbedaan pada pemaknaan kepentingan dan kebahagian masing-masing pihak. Semaraknya ketangkasan berdefinisi di antara pejabat-pejabat tertinggi setiap negara, pasti disambut senyum Arestoteles. Jika ia diberi umur panjang, anak-anaknya Marx akan setengah hati mengabadikan firman sang bapak, &#8220;Filsuf sibuk hanya dengan mengartikan dunia, dan aku datang untuk mengubah dunia&#8221;.<br />
Maka, permasalahan yang sebenarnya, meski -sekali lagi- perlu waktu dan sabar untuk menanggapinya, adalah &#8220;Apakah kebaikan dan kebahagiaan? Apakah hidup yang bahagia? Apakah hidup? Siapakah yang hidup? Apakah yang baik? Siapakah yang bahagia?<br />
Dekonstruksi<br />
Immanuel Kant, filosof besar asal Jerman, merangkum masalah-masalah itu dengan mengajukan tiga pertanyaan esensial; Pertama, &#8220;Apakah yang bisa Aku ketahui? Kedua, &#8220;Apakah yang semestinya Aku lakukan? Ketiga, &#8220;Apakah harapan yang bisa aku raih?<br />
Pertanyaan pertama menyoal diri. Bagaimanapun seorang skeptis meragukan apapun, ia tidak akan bisa meragukan realitas (keberadaan) dirinya. Maka, sesuatu yang bisa kita ketahui adalah realitas diri kita sendiri.<br />
Lalu, apakah realitas diri kita? Tidak syak lagi, bahwa setiap manusia memiliki masa lalu dan masa depan. Maka, pertanyaan yang lebih cermat adalah; Pertama, &#8220;Apakah masa lalu diriku?&#8221; Kedua, &#8220;Apakah masa depan diriku?&#8221;<br />
Apapun yang kita lupakan tentang masa lalu, kita tidak akan lupa bahwa kita pernah tidak ada lalu dilahirkan. Detik pertama kelahiran itulah awal diri kita sebagai realitas.<br />
Jika kita cecar lebih lanjut, maka pertanyaan yang muncul berikutnya adalah &#8220;Apakah awal realitasku? Dengan demikian, buntut pertanyaan Kant pertama itu berkaitan dengan sangkaan (sumber wujud).<br />
Adapun pertanyaan &#8220;Apakah masa depan diriku?&#8221; tidak beda dengan pertanyaan Kant yang ketiga. Tentunya, menuntaskan masalah masa depan dan harapan kita, akan mengimplikasikan pertanyaan Kant yang kedua, &#8220;Apakah yang semestinya aku lakukan untuk meraih harapan dan menyongsong masa depan itu?<br />
Singkatnya, pertanyaan pertama menyoal masalah asal-usul realitas. Kedua menyoal masalah nasib atau akhir realitas. Dan ketiga menyoal cara hidup (way of life).<br />
Ali, sang manusia suci itu berkata, &#8220;Rahima-llah imra-an a&#8217;adda li nafsihi wasta&#8217;adda li ramsihi, wa &#8216;alima min aina, wa fi aina, wa ila aina.&#8221; Niscaya Allah swt mencurahkan rahmat-Nya kepada seorang hamba yang mempersiapkan diri dan lahatnya, serta ia tahu dari mana ia datang, di mana ia berada dan akan kemana ia pergi.<br />
Ali menggambarkan kehidupan manusia laksana perjalanan. Ada awal, ada akhir. Harus hidup berarti harus bergerak dari titik awal menuju titik akhir. Namun bergerak dalam kegelapan (kebodohan dan kemasabodohan) tak ubahnya meraba-raba, mereka-reka, penuh ragu dan gelisah. Siksaan itu menjadi semakin terasa tatkala kegelapan mengkaburkan titik awal. Anda tidak bisa lagi bergerak. Anda tidak bisa lagi berjalan. Dan, Anda pun tidak bisa lagi hidup. Anda sudah mati sebelum dimatikan. Sebut saja dunia ini living dead people, untuk tidak sekasar Scott menjuduli bukunya, The World, A Crowd of Sleepwalkers . Nasib anda tidak beda dengan sekawanan manusia yang memilih nihilisme atau bunuh diri, karena kegelisahan mereka dalam kegelapan titik akhir (baca: makna dan tujuan hidup).<br />
Titik awal itu sepenting titik akhir. Perjalanan jadi diam dan hidup jadi mati, hanya dengan kehilangan dan kekaburan salah satu titik. Ali sekali lagi menggeledah kalbu kita, Man lam ya&#8217;rif min aina ja-a, lam ya&#8217;rif lia aina yadzhab (dia yang tidak tahu dari mana datang, niscaya tidak akan tahu kemana akan pergi). Maka, semua bergantung pada manusia. Nasib dirinya dan dunianya ada di tangannya. Inilah tanggung jawab terhadap totalitas hidup; awal, akhir dan tengahnya.<br />
Di akhir kontemplasi falsafi, Kant menyimpulkan, bahwa tiga pertanyaan itu pada dasarnya berasal dari satu permasalahan saja, yaitu &#8220;Apakah Manusia?&#8221; kesimpulan ini membebaskan masalah awal-akhir-tengah itu dari batasan waktu. &#8220;Apakah manusia? tidak hanya berlaku pada jaman modernitas dan globalisasi. Ia tetap relevan pada setiap manusia yang hidup di setiap saat.<br />
Dulu, Sokrates telah memulai untuk berusaha melemparkan dirinya keluar dari mulut toples kehidupan masanya yang sofistis, skeptis, hedonis. Sejak itu pula ia menggugah manusia untuk menyadari ketololan dirinya sendiri (dekonstruksi), sembari mengajak mereka mengenal dirinya (rekonstruksi). Di setiap sudut Athena ia mendzikirkan &#8220;Gnoti seauton, meden agan!&#8221; Sebuah sabda tujuh filsuf Yunani Kuno yang terukir di gerbang peribadatan Apollo. Artinya, &#8220;Kenalilah dirimu, dan jangan keterlaluan!&#8221;.<br />
Insaf<br />
Kata Ali, manusia di dunia ini tertidur lelap, mereka baru terjaga sadar tatkala direbut maut. Kata Sokrates, semua orang itu tahu. Kata Rumi, hanya saja mereka lalai. Kias Razi, manusia akan mengerti arti sehat sesaat setelah sakit. Kata pepatah, pandanglah kota dari atas tebing, Anda akan melihat yang sebenarnya. Semua kata-kata itu memesankan hijrah; keluar dari status quo, untuk menjadi sadar dan cermat menilai.<br />
Dengan cara itu akan lebih mudah mengenal diri. Tak ubahnya cermin. Ia menduakan sesuatu. Ketika itu, cermin membantu kita mengenalkan diri kita dengan diri kita yang kedua yang ada di dalamnya. Cermin membantu kita keluar dari diri. Lewat cermin itu kita bisa mengamati rapih kusutnya diri kita.<br />
Agar penilaian kita terhadap diri akurat dan cermat, mau tidak mau harus keluar dulu dari status quo diri. Tidak perlu biaya banyak untuk mencari-cari penilaian dari luar. Diri kita adalah cermin diri sendiri. Ia bahkan lebih bersih dan jujur, setulus tekad kita untuk bercermin. Ia fasih bicara sebelum ditanya. Ia blak-blakan tanpa pamrih. Balil insan &#8216;ala nafsihi bashirah.<br />
Apakah status quo diriku? Apakah dunia diriku? Setiap orang punya dunia khas; kebutuhan, keingingan, gelinjang hasrat, harapan, pikiran, sikap dan perilaku, sebuah rangkaian yang mencerminkan diri seseorang. Kesamaan rangkaian menandakan kesamaan diri. Begitu pula perbedaannya.<br />
Kesamaan dan perbedaan rangkaian bisa dikehendaki dan disadari, bisa juga dipaksakan dan tidak disadari. Paling tidak, ini yang dialami Leo Tolstoy, penulis besar Rusia abad sembilan belasan. Pada usia lima puluhan, ia mencapai puncak kebanggaan dan popularitas. Di atasnya, ia pernah berfikir, apakah aku lebih besar dari Shackspear, Poshcine, Goeppol, Muller? Dalam pengakuannya, di puncak itu pula ia hampir bunuh diri. Tolstoy gelisah menghadapi sebuah pertanyaan yang menurutnya paling sederhana di sepanjang kegiatan menulis. Katanya, sebuah pertanyaan yang ada pada setiap jiwa, dari bocah yang paling tolol, sampai si tua yang paling bijak, mengapa aku hidup? Mengapa aku menginginkan dan mengharapkan sesuatu? Mengapa aku bertindak?<br />
Tanpa harus repot menilai diri Tolstoy, kehilangan identitas atau tidak, secara terpaksa atau sadar, ada yang lebih pantas untuk dinilai. Pernahkah kita, dengan segala ketololan dan kebijakan kita, mencoba mengusik hati, pikiran, diri kita dengan pertanyaan itu. Apakah kebutuhan diriku? Mengapa aku harus membutuhkan ini, bukan itu? Apakah keinginan diriku? Mengapa Aku harus menginginkan ini? Apakah pikiranku? Mengapa aku harus memikirkan sesuatu ini? Dan, apakah perilakuku? Mengapa aku melakukan ini? Dan akhirnya, apakah Aku? Pertanyaan-pertanyaan yang sudah terlirik sejak The Epic of Gilgamesh ditulis, belasan ribu tahun sebelum Sokrates lahir.<br />
Mungkin terabaikan untuk beberapa hari, atau bertahun-tahun, sampai saatnya terjadi kegelisahan, membuntuti dan menghantui. Tidak heran, orang seperti Tolstoy baru menyadari pertanyaan itu secara serius, setelah diacuhkannya selama puluhan tahun. Ada permasalahan esensial tentang hakekat kemanusiaan yang belum tertuntaskan. Kata Horace, si penyair Romawi itu, Naturam expellere&#8230; Pobel usque recurret, apa artinya mencerabut kodrat, toh akan kembali ke asal. Gelisah adalah problem. mengacuhkan atau menutup-nutupi, mengelak atau menolak, selama tidak tertuntaskan, problem itu tetap problem.<br />
Saudaraku!<br />
Di dunia modern, industrial, kapitalis kita sekarang, ketika pilihan sedemikian banyaknya, kebutuhan dibuat-buat, keinginan dijadi-jadi, produk dipatok jadi ukuran, gelar dan status dipuja jadi nec ultra plus, hedonisme dianut jadi jalan bertindak, cara dan teknis jadi arah pikiran, jumlah orang jadi standar kebenaran, tantangan manusia sekarang semakin besar untuk menghadapi pertanyaan itu.<br />
Sebesar apapun tantangan itu, melontarkan pertanyaan itu saja kepada diri kita sendiri sudah cukup untuk bisa keluar dari status quo diri, untuk kemudian bercermin di hadapannya. Artinya, menyadari bahwa ada sederetan pertanyaan yang belum tertuntaskan, menyangkut hidup mati dirinya. Kesadaran ini disebut para arif dengan yaqzhah, sebagai langkah dan maqam pertama setiap pesuluk. Ia adalah insaf, yaitu mau memahami diri sendiri, apa adanya, secara jujur dan tulus. Sebaliknya, ketidaktahuan dan kemasabodohan akan kesadaran itu disebut para ahli Logika sebagai jahl murakkab, artinya kebodohan kuadrat. Artian ini memang terasa kasar oleh emosi, tapi sungguh tersentuh lembut oleh akal waras. Boleh jadi, karena tidak ditemukan lagi kata yang lebih akurat.<br />
Walhasil, kalau memang kata Horace itu benar, kalau memang melontarkan pertanyaan itu perlu, kalau memang keluar dari status quo itu lazim, kalau memang tahu diri sendiri itu penting, irfan pun menjadi penting, lazim, perlu dan benar. Maka, irfan dan kearifan bukanlah tuntunan atau milik khusus jajaran elit kaum saleh. Irfan bukan kegiatan dalam keheningan dan kesendirian. Ia mengalir di sepanjang sungai beriak. Semua manusia mau tidak mau melewati gerbang irfan. Jadi, irfan bukan tawaran, begitu tutur Ogha Behjat di Qom. Tidak ketinggalan, juga logika.<br />
Akhirnya, Ya ayyuhalladzina amanu alaikum anfusakum, la yadhurrukum man dholla idzahtadaitum, ilalllahi marji&#8217;ukum jamian fayunabiukum bima kuntum ta&#8217;malun. (Wahai orang-orang yang beriman, waspadailah dirimu! Tiadalah orang yang sesat itu mengancam dirimu apabila kamu telah mendapat petunjuk kebenaran. Hanya kepada Allah kamu kembali, maka dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu lakukan) (Q.5/105).<br />
(Dikutip dari www.al-shia.com)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sanggardewa.wordpress.com/13/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sanggardewa.wordpress.com/13/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sanggardewa.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sanggardewa.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sanggardewa.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sanggardewa.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sanggardewa.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sanggardewa.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sanggardewa.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sanggardewa.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sanggardewa.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sanggardewa.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sanggardewa.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sanggardewa.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sanggardewa.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sanggardewa.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sanggardewa.wordpress.com&amp;blog=1606512&amp;post=13&amp;subd=sanggardewa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sanggardewa.wordpress.com/2007/09/05/yaqzhah-awal-jenjang-kearifan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/77e977953e7ca277b51dae727e81a4f4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sanggardewa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tahmid Kepada Allah Azza Wa Jalla</title>
		<link>http://sanggardewa.wordpress.com/2007/09/05/tahmid-kepada-allah-azza-wa-jalla/</link>
		<comments>http://sanggardewa.wordpress.com/2007/09/05/tahmid-kepada-allah-azza-wa-jalla/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Sep 2007 06:16:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sanggardewa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Doa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sanggardewa.wordpress.com/2007/09/05/tahmid-kepada-allah-azza-wa-jalla/</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah Yang pertama tanpa ada yang mengawali sebelum Dia Yang terakhir tanpa ada yang mengakhiri sesudah Dia Yang tak terlihat oleh pandangan orang yang memandang Yang tak tergambarkan oleh bayangan orang yang membayangkan Yang menciptakan makhluk-Nya dengan kekuasaan-Nya Yang menciptakan ciptaan-Nya dengan kehendak -Nya Yang memberi petunjuk kepada mereka jalan keinginan-Nya Yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sanggardewa.wordpress.com&amp;blog=1606512&amp;post=12&amp;subd=sanggardewa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Segala puji bagi Allah<br />
Yang pertama tanpa ada yang mengawali sebelum Dia<br />
Yang terakhir tanpa ada yang mengakhiri sesudah Dia<br />
Yang tak terlihat oleh pandangan orang yang memandang<br />
Yang tak tergambarkan oleh bayangan orang yang membayangkan<br />
Yang menciptakan makhluk-Nya dengan kekuasaan-Nya<br />
Yang menciptakan ciptaan-Nya dengan kehendak -Nya<br />
Yang memberi petunjuk kepada mereka jalan keinginan-Nya<br />
Yang mengutus mereka ke jalan kecintaan-Nya<br />
<span id="more-12"></span><br />
Mereka tak mampu menunda<br />
apa yang telah didahulukan kepadanya<br />
Dan tak kuasa pula mereka mendahulukan<br />
apa yang telah diakhirkan kepadanya<br />
Yang menciptakan bagi setiap jiwa<br />
makanan tertentu yang sudah dibagi-bagi<br />
dan tak satupun yang kurang atau lebih</p>
<p>Yang menetapkan dalam kehidupan ini batas waktu tertentu<br />
Yang menegakkan dalam hidup ini jangka waktu tertentu<br />
yang dilewati semua makhluk di masa-masa usianya<br />
yang dihabiskannya dalam masa-masa tahunan<br />
hingga akhirnya di saat mereka menemui ajalnya<br />
Allah membalasnya dengan amalannya<br />
Allah membalas orang-orang yang berbuat salah<br />
sesuai dengan amalan kejahatannya<br />
Dan Allah memberi imbalan<br />
atas orang-orang yang berbuat baik<br />
sesuai dengan amalan kebaikannya<br />
Semua atas dasar keadilan-Nya</p>
<p>Sungguh sucilah Nama-nama-Nya<br />
Serta agung dan mulia Sifat-sifat-Nya<br />
Tak ditanya apapun yang Dia lakukan<br />
Sedang mereka sendiri bakal ditanya</p>
<p>Segala puji bagi Allah<br />
Yang seandainya menahan hamba-hamba-Nya<br />
dari mengetahui cara bersyukur kepada-Nya<br />
atas segala nikmat yang Ia berikan tak henti-hentinya<br />
maka mereka akan berbuat seenaknya atas nikmat-Nya<br />
mereka tidak lagi memuji-Nya<br />
mereka sudah sewenang-wenang atas rizki-Nya<br />
mereka tidak mensyukuri-Nya lagi<br />
Mereka, dengan demikian,<br />
sudah keluar dari batas-batas kemanusiawiannya<br />
Mereka turun derajatnya layaknya seperti binatang<br />
Seperti yang digambarkan dalam kitab-Nya :<br />
&#8220;Mereka sudah seperti binatang, bahkan lebih sesat&#8221;</p>
<p>Segala puji bagi Allah<br />
Yang telah memperkenalkan kami atas diri-Nya<br />
Yang memberi kami kemampuan untuk mensyukuri-Nya<br />
Yang membuka bagi kami<br />
pintu-pintu pengetahuan tentang keilahian-Nya<br />
Yang menunjukkan kepada kami<br />
cara berbuat ikhlas dalam mengesankan-Nya<br />
Yang menjauhkan kami<br />
dari sikap atheis dan ragu-ragu terhadap-Nya</p>
<p>Segala puji kami persembahkan kepada-Nya<br />
Melebihi yang dilakukan makhluk-Nya atas diri-Nya<br />
Mendahului yang terlebih dulu<br />
mengharap ridho dan ampunan-Nya<br />
yang menerangi kami dalam kegelapan alam Barzakh<br />
yang melapangkan kami ke jalan kebangkitan dari kubur<br />
yang memuliakan kedudukan kami<br />
di saat pembuktian saksi-saksi<br />
di hari di mana setiap jiwa<br />
akan ditanya setiap yang diperbuat<br />
sedang mereka tidaklah dizhalimi<br />
di hari di mana setiap hamba<br />
tak mampu membantu hamba lainnya<br />
dan mereka tidak pula mendapat pertolongan</p>
<p>Segala puji bagi Allah<br />
yang mengangkat kami ke tingkat a&#8217;la illiyyin<br />
dalam kitab tertulis<br />
yang disaksikan oleh malaikat al-muqarrabin<br />
Segala puji bagi Allah<br />
yang membuat hati kami tenang<br />
di saat semua mata terbelalak memandang<br />
yang membuat wajah kami cerah bersinar<br />
di saat semua muka diliputi kegelapan</p>
<p>Segala puji bagi Allah<br />
yang membebaskan kami dari pedihnya api nereka<br />
dan mengantar kami ke haribaan Allah<br />
Segala puji bagi Allah<br />
yang memasukkan kami<br />
ke golongan malaikat al-muqarrabin<br />
yang mengelompokkan kami<br />
ke dalam barisan para nabi dan rasul<br />
di dalam kedudukan yang terhormat yang tak pernah sirna<br />
dalam posisi kemuliaan yang tak pernah surut</p>
<p>Segala puji bagi Allah<br />
Yang memberkati kami sebagai ciptaan-Nya yang terpilih<br />
Yang memberi kami rizki yang baik dan halal<br />
Yang menganugerahi kami<br />
kelebihan menguasai atas seluruh makhluk-Nya<br />
Semua makhluk-Nya<br />
tunduk kepada kami berkat kekuasaan-Nya<br />
dan tetap setia mentaati kami berkat keagungan-Nya</p>
<p>Segala puji bagi Allah<br />
yang menutup pintu bagi kami kecuali kepada-Nya<br />
Bagaimana kami mampu memuji-Nya<br />
atau kapan kami bersyukur kepada-Nya<br />
tak satupun kata-kata &#8220;kapan&#8221; yang kami pertanyakan</p>
<p>Segala puji bagi Allah<br />
Yang menawarkan kepada kami<br />
kemampuan untuk melapangkan<br />
dan kekuatan untuk mengekang<br />
Yang melapangkan hidup kami<br />
Yang mengukuhkan amal-amal perbuatan kami<br />
Yang menghidupi kami dengan rizki yang baik<br />
Yang memperkaya kami dengan karunia-Nya<br />
Yang memerintah kami<br />
untuk menguji tingkat ketaatan kami<br />
dan melarang kami untuk menguji rasa syukur kami<br />
Lalu kami melalaikan jalan perintah-Nya<br />
dan kami melakukan sesuatu yang dilarang-Nya<br />
namun Ia tidak segera menghukum kami<br />
dan tak pula mempercepat siksaan<br />
Ia malah menangguhkan kami berkat rahmat-Nya<br />
dan menunggu pertaubatan kami berkat kasih sayang-Nya</p>
<p>Segala puji bagi Allah<br />
Yang menunjukkan kami jalan taubat<br />
yang tidak kami lakukan sepenuhnya<br />
kecuali berkat karunia-Nya<br />
yang kami harap hanyalah karunia-Nya dengan taubat itu</p>
<p>Sungguh besar nan agung karunia dan kebaikan-Nya kepada kami</p>
<p>Padahal tidak demikianlah<br />
yang dialami umat terdahulu sebelum kami<br />
dalam melakukan taubat<br />
Ia yang telah menghapus dari kami<br />
segala hal yang tak sanggup kami lakukan<br />
dan yang tidak membebani kami<br />
kecuali yang mampu kami lakukan<br />
dan tidak pula memberatkan<br />
kecuali yang mudah kami lakukan<br />
dan tidak pula mngabaikan pembelaan dan udzur kami<br />
orang celaka di antara kami<br />
adalah orang yang mencelakai orang lain<br />
dan orang yang bahagia di antara kami<br />
adalah yang membahagiakan orang lain</p>
<p>Segala puji bagi Allah<br />
dengan segenap pujian<br />
yang dikumandangkan para malaikat-Nya<br />
dan para makhluk yang dimuliakan-Nya</p>
<p>Segala puji bagi Allah<br />
yang melebihi segala pujian<br />
seperti kelebihan Tuhan kami atas seluruh makhluk-Nya</p>
<p>Segala puji bagi Allah<br />
atas setiap nikmat yang Ia berikan<br />
kepada kami dan hamba-hamba-Nya<br />
baik yang telah mendahului kami maupun yang akan datang<br />
sejumlah hitungan segala sesuatu yang hanya diketahui-Nya<br />
dan semua kelipatannya sampai hari kiamat</p>
<p>Segala puji bagi Allah<br />
puji yang tiada akhir<br />
nan tak terhitung jumlahnya<br />
nan tak berujung-pangkal<br />
nan tiada henti dan akhir<br />
pujian kami haturkan kepada-Nya<br />
sebagai penghubung untuk mentaati-Nya<br />
dan meminta ampunan-Nya<br />
sebagai penyebab memperoleh ridho-Nya<br />
sebagai pengantar jalan menuju surga-Nya<br />
sebagai pelindung dari siksa-Nya<br />
sebagai pengaman dari murka-Nya<br />
sebagai penolong untuk mentaati-Nya<br />
sebagai penghalang dari mendurhakai-Nya<br />
sebagai pembantu untuk tetap melaksanakan<br />
hak-hak dan tugas-tugas-Nya</p>
<p>Segala puji bagi Allah<br />
Pujian yang mengantar kami<br />
kepada kebahagiaan bersama para kekasih-Nya<br />
dan membawa kami ke golongan para syuhada<br />
dengan pedang musuh-musuh-Nya</p>
<p>Sesungguhnya Allah Maha Pelindung dan Maha Terpuji</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sanggardewa.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sanggardewa.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sanggardewa.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sanggardewa.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sanggardewa.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sanggardewa.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sanggardewa.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sanggardewa.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sanggardewa.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sanggardewa.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sanggardewa.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sanggardewa.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sanggardewa.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sanggardewa.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sanggardewa.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sanggardewa.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sanggardewa.wordpress.com&amp;blog=1606512&amp;post=12&amp;subd=sanggardewa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sanggardewa.wordpress.com/2007/09/05/tahmid-kepada-allah-azza-wa-jalla/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/77e977953e7ca277b51dae727e81a4f4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sanggardewa</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
