Menuju Ekstase Spiritual

The Light Worker Has Head In The Sky And Has Feet In The Earth

KEGAGALAN ISTIQOMAH

(Ulat, Kepompong dan Buaya Hina)

Wahai ulat yang tahu diri, agar tidak musnah dimakan zaman dan kefanaan serta kekekalan.

Bungkuslah dirimu dengan kepompong.
Kepompong puasa dan dzikir,
Kepompong kesendirian dan diam,
Kepompong tawakal pada rizqi,
Kepompong keyakinan perubahan.

Selama engkau dalam kepompong jangan ragu wahai Saudaraku. Tapi jalanilah agar engkau dapat berubah diri. Tiada yang tahu perubahan, namun itu kodrat alam serta pasti. Jika berani sebab tiada akan ada perubahan pada aturan yang telah ditetapkan. Wahai Saudaraku, pegang erat, namun engkau akan jatuh jua pada lembah ini, sebab tergores dan teroleh lezat madu, putik sari pada bunga serta cahaya kunang-kunang Arwah. Hingga bila ada seruan janganlah putus asa dari Rahmat. Tiada putus asa kecuali ingkar pada Tuhan.

Bangkitlah dirimu dengan segenap ilmu, ulat, kupu-kupu dan kunang-kunang dengan penuh pasti karena pernah engkau jalani dan alami.  Wahai Saudaraku, katakanlah tiada daya dan upaya kecuali dari yang jadi tujuanmu. Dengan IzinNya engkau berdaya. Semoga engkau arif dan bijaksana. Wahai Saudaraku, dengan kearifan pada jalan dan hamba-hambanya serta kebijaksanaan pada penyusuran tujuan.Terlihatlah kini kesatuan pada ribuan jalan yang menujukan pada tujuan. Begitu pula rintangan yang merintangi tercapainya pada Tujuan Keabadian. Wahai Saudaraku, dengan segala ketidakberdayaan pada kearifan dan kebijaksanaan terbit setitik keterangan pada penyerahan bulat-bulat walau dalam kebimbangan dan keraguan serta kegelapan. Berharaplah…!  Bukankah ulat hina-dina menjadi kupu-kupu jelita. Bukankah kupu-kupu istiqomah menjadi kunang-kunang yang bercahaya, kini tinggallah kenangan yang membayang.
Wahai Saudaraku, harapan tinggal harapan. Kearifan dan kebijaksanaan dari ilmu sudah tidak berdaya tapi tujuan masih sangat jauh. Menangislah karena salah dan lelah serta lalai,itulah air mata buaya hina.  Oh Buaya hina berlinang air mata penuh duka nestapa disaksikan ribuan mata dengan bahasa tanpa kata, berkata: engkau buaya kalah. Seberapa lamakah?
Lalu tertawalah, dan katakanlah kebenaran yang sebenarnya. Akulah Sang Petualang istiqomah yang telah menempuh jalan menuju Tujuan Keabadian dan Keazalian atau apa pun sebutan pada itu. Lalu dengan hampa antara menangis dan tertawa, tertawa dan menangis, berceritalah. Doakanlah dan bantulah dengan senyum tipis dan sinis.  Wahai Saudaraku, dahulukan pada urutan dari ulat hina yang bertapa hingga menjadi kupu-kupu dan menjadi kunang-kunang hingga terlempar jadi buaya.

Telah mendidik babi kerakusan,
Telah mendidik anjing kemarahan,
Telah mendidik katak kesetanan,
Telah mendidik akal jadi kunang,
Wahai Saudaraku,
Ribuan mata memandang,
Ribuan tangan menggapai,
Ribuan kaki berjalan,
Ribuan kepala berdatangan,
Kepada buaya yang menangis,
Berlinangan dan tersenyum sinis dan tipis.

Wahai saudaraku, akhirnya kearifan dan kebijaksanaan dating kepadanya sambil membawa susunan serta urutan perjalanan mulai kalam, dzikir, sholawat dan do’a dengan susunan yang seksama pada sang buaya hina dan terlena. Terlena buaya pada penyesalan kelalaian kelezatan, bercerita tentang pengalaman untuk mencapai tujuan. Dari banyaknya buaya bercerita tentang hingga jadilah beragam buku dan kilat yang dijadikan dari ceritera perjalanannya yang gagal belum terlaksana. Wahai Saudaraku, Buaya tetaplah buaya yang memakan sesama dan bangkai. Walaupun dari jelmaan,dengarlah tangisan dan ratapan penyesalannya. Walau telah dibukukan dan dibakukan dengan susunan.

Wahai Saudaraku, buaya jelmaa berkata; janganlah terburu nafsu, janganlah marah meluap-luap, janganlah mencari-cari alasan, janganlah ujub dan sombong, akulah jadinya. Wahai Saudara, dari susunan kitab buaya tersusun kitab ilmu perjuangan, perjalanan, pertolongan dan riwayat sang buaya hina terlena. Dengan kearifan dan bijaksana tersusun pula kitab “Kutubul Insani” bagi para petualang istiqomah yang mana belum sempurna dalam lakunya. Wahai Saudaraku, bangkitlah dirimu janganlah terlena oleh tangisan dan senyuman buaya lalai dan kalah serta terlena yang berharap tapi tidak berbuat, yang senang dengan sanjung dan puji juga sebutan nyeleneh atau “beda” dan lain sebutan. Hindarilah dari semua itu, mulai berjalan kembali mencapai tujuan. Wahai Saudaraku, setelah 13 tahun lamanya, akhirnya sang buaya jelmaan mulai menyadari kelalaiannya pada mencapai tujuan. Hingga dia merubah diri jadi buaya putih pertapa terus menggapai dan berjuang. Mula-mula buaya putih berpegang pada kalam, lalu pada penghulu jalan dan pada penempuh jalan yang telah sampai tujuan.

Wahai Saudaraku. Kenapa kunang-kunang jadi buaya? Saudarku, karena dia menoleh dan tergiur kemudian menangis bukan pada yang menjadi tujuan, tapi pada kehilangan maka jadilah dia buaya. Dari air matanya menjadi sanjung dan puji ulat-ulat hina. Dari ratapan dan rintihannya jadi kitab-kitab tuntunan kupu-kupu malang. Dari sedu-sedannya menjadi petunjuk dan arah. Dari tertawa dan sinis senyumnya menjadi rahasia kunang-kunang yang terbuang cahayanya, yang iri pada cahaya besar. Wahai Saudaraku, inilah kitab penuturan dari perjalanan petualang istiqomah yang gagal yang akhirnya jadi buaya putih pertama sehingga dia memperoleh ilham untuk melanjutkan perjalanan menuju tujuan. Kembalilah, pegang erat kalam dan penghulu istiqomah serta para penempuh jalan yang telah sampai pada tujuan. Rubahlah dirimu dari buaya menjadi manusia. Bertapa 41 hari ditambah 41 hari lagi, dan 41 hari lagi, maka berubahkan dia menjadi manusia.

Wahai Saudaraku, 41 hari pertama pada kalam baik bacaan dan arti hingga didapat pemahaman tentang pokok jalan yang sebenarnya. 41 hari kedua, pada menemui penghulu manusia, penghulu jalan istiqomah meminta pertolongan pada tahapan demi tahapan dalam perjalanan serta do’a restu. 41 hari ketiga, bertawassul atau berwasilah pada para penempuh jalan agar diberikan petunjuk dan tuntunan serta bekal dalam perjalanan. Wahai Saudaraku  setelah bertapa atau beruzlah 41 x 3 maka resmilah dia jadi manusia penempuh jalan istiqomah untuk mencapai tujuan.

Filed under: Tidak terkategori

Cinta Indonesia, Peduli Palestina

Saya mendapatkan posting dari sebuah milis. Karena bagus dan mencerahkan, penulis aslinya belum bisa dipastikan karena sudah beberapa kali menjadi korban “copas” alias copy paste dari milis-milis di belakangnya.

Kenapa Kita Memikirkan Palestina?

“Akhirnya, pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita.Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar.” (Bung Tomo, Surabaya, 10 November 1945)

Kalau ada ribut-ribut di negara- negara Arab, misalnya di Mesir, Palestina, atau Suriah, kita sering bertanya apa signifikansi dukungan terhadap negara tersebut. Misalnya hari ini ketika Palestina diserang, mengapa kita (bangsa Indonesia) ikut sibuk?

Sebagai orang Indonesia, sejarah menjelaskan bahwa kita malah berhutang dukungan untuk Palestina dan negara arab lain.

Dari sumber yang saya peroleh (insyaallah shahih); Sukarno-Hatta boleh saja memproklamasikan kemerdekaan RI de facto pada 17 Agustus 1945, tetapi perlu diingat bahwa untuk berdiri (de jure) sebagai negara yang berdaulat, Indonesia membutuhkan pengakuan dari bangsa-bangsa lain. Pada poin ini kita tertolong dengan adanya pengakuan dari tokoh tokoh Timur Tengah, sehingga Negara Indonesia bisa berdaulat.

Gong dukungan untuk kemerdekaan Indonesia ini dimulai dari Palestina dan Mesir, seperti dikutip dari buku “Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri” yang ditulis oleh Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia , M. Zein Hassan Lc.

M. Zein Hassan Lc. Lt. sebagai pelaku sejarah, menyatakan dalam bukunya pada hal. 40, menjelaskan tentang peranserta, opini dan dukungan nyata Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia, di saat negara-negara lain belum berani untuk memutuskan sikap.

Dukungan Palestina ini diwakili oleh Syekh Muhammad Amin Al-Husaini -mufti
besar Palestina- secara terbuka mengenai kemerdekaan Indonesia:”.., pada 6 September 1944, Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan ‘ucapan selamat’ mufti Besar Palestina Amin Al-Husaini (beliau melarikan diri ke Jerman pada permulaan perang dunia ke dua) kepada Alam Islami, bertepatan ‘pengakuan Jepang’ atas kemerdekaan Indonesia.

Berita yang disiarkan radio tersebut dua hari berturut-turut, kami sebar-luaskan, bahkan harian “Al-Ahram” yang terkenal telitinya juga menyiarkan.” Syekh Muhammad Amin Al-Husaini dalam kapasitasnya sebagai mufti Palestina juga berkenan menyambut kedatangan delegasi “Panitia Pusat Kemerdekaan Indonesia” dan memberi dukungan penuh. Peristiwa bersejarah tersebut tidak banyak diketahui generasi sekarang, mungkin juga para pejabat dinegeri ini.

Bahkan dukungan ini telah dimulai setahun sebelum Sukarno-Hatta benar-benar memproklamirkan kemerdekaan RI.

Tersebutlah seorang Palestina yang sangat bersimpati terhadap perjuangan Indonesia, Muhammad Ali Taher. Beliau adalah seorang saudagar kaya Palestina yang spontan menyerahkan seluruh uangnya di Bank Arabia tanpa meminta tanda bukti dan berkata: “Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia ..”

Berapa uang kita yang sudah diperuntukan kepada mereka yang dulu telah membantu moyang kita…?????

Dukungan Mengalir. Setelah Itu di jalan-jalan terjadi demonstrasi- demonstrasi dukungan kepada Indonesia oleh masyarakat Timur Tengah.

Ketika terjadi serangan Inggris atas Surabaya 10 November 1945 yang menewaskan ribuan penduduk Surabaya, demonstrasi anti Belanda-Inggris merebak di Timur-Tengah khususnya Mesir. Shalat ghaib dilakukan oleh masyarakat di lapangan-lapangan dan masjid-masjid di Timur Tengah untuk para syuhada yang gugur dalam pertempuran yang sangat dahsyat itu.

Yang mencolok dari gerakan massa internasional adalah ketika momentum Pasca
Agresi Militer Belanda ke-1, 21 juli 1947, pada 9 Agustus. Saat kapal “Volendam” milik Belanda pengangkut serdadu dan senjata telah sampai di Port Said.

Ribuan penduduk dan buruh pelabuhan Mesir berkumpul di pelabuhan itu.
Mereka menggunakan puluhan motor-boat dengan bendera merah putih? tanda solidaritas- berkeliaran di permukaan air guna mengejar dan menghalau blokade terhadap motor-motor- boat perusahaan asing yang ingin menyuplai air & makanan untuk kapal “Volendam” milik Belanda yang berupaya melewati Terusan Suez, hingga kembali ke pelabuhan.

Temen-temen gimana rasannya saat melihat bendera kita di kibarkan oleh bangsa lain dengan kesadaran penuh menunjukan rasa solidaritasnya???? karena mereka peduli Wartawan ‘Al-Balagh’ pada 10/8/47 melaporkan: “Motor-motor boat yang penuh buruh Mesir itu mengejar motor-boat besar itu dan sebagian mereka dapat naik ke atas deknya. mereka menyerang kamar stirman, menarik keluar petugas-petugasnya, dan membelokkan motor-boat besar itu kejuruan lain.”

Melihat peliknya usaha kita untuk merdeka, semoga bangsa Indonesia yang saat ini merasakan nikmatnya hidup berdaulat tidak melupakan peran bangsa bangsa Arab, khususnya Palestina dalam membantu perdjoeangan kita. Temen-temen, setelah baca cerita ini sayapun tidak memaksa (kalau merasa keberatan) untuk turun kejalan, memberi sumbangan dana atau apalah namannya.

Saya juga belum paham betul duduk permasalah yang begitu ruwet di
palestina. Setidaknya kita diingatkan bahwa kenikmatan kita hari ini, tidak lepas dari bantuan moyang mereka jua????.dan saya hanya menegur diri saya sendiri, bahwa disana (palestina)sedang ada musibah kemanusiaan.

(posting ini dikirim oleh “a_ghofy”

sumber : http://muhsinlabib.wordpress.com

Filed under: Sejarah

Selamat Hari Raya

Filed under: Tidak terkategori

Cinta Adalah Keterpisahan

Anak – anakmu bukanlah anak – anakmu,
Mereka adalah anak – anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri,
Mereka lahir melalui dirimu, tetapi bukan darimu,
Dan meski mereka bersamamu, mereka bukan milikmu,

Baca entri selengkapnya »

Filed under: Matsnawi

Sabar at First Strike

Diriwayatkan pada suatu ketika Rasulullah SAW sedang berjalan dari suatu tempat. Di tengah perjalanan beliau SAW mendengar jeritan-jeritan yang berasal dari sebuah rumah. Ketika melewati rumah tersebut, beliau SAW mendapati ternyata suara tersebut berasal dari seorang Ibu yang tak kuasa menahan sedih karena ditinggal mati anaknya.
Lanjut…? Klik disini

Filed under: Kisah

RISALAH AL WAHDAH (PESAN PERSATUAN)

DALAM PERSAUDARAAN DAN PERSATUAN,
KITA TIDAK LAGI MENGENAL MADZHAB
TIDAK MENGENAL LAGI SYI’AH DAN AHLUSUNNAH
KITA TIDAK LAGI MENGENAL ETNIS
KITA TIDAK LAGI MENGENAL MASA LALU
KITA TIDAK LAGI MENGENAL WARNA KULIT
KITA TIDAK LAGI MENGENAL NASAB
PERSATUAN ADALAH MELINTASI SEGALA-GALANYA
Lanjut…? Klik disini

Filed under: Tidak terkategori

TAUBAT

Didalam bahasa Arab ada beberapa kata untuk menunjukan kata kembali. Kata yang paling kita ketahui adalah kata ‘Id atau ‘Aud, berasal dari kata ‘Âda-Ya’ûdu-’îdan-wa-’audan, yang artinya kembali. Sebagian orang mengatakan bahwa Idul Fitri artinya kembali kepada fitrah. Ada juga yang mengatakan fitr di situ berasal dari kata futhûr sehingga Idul Fitri diartikan bahwa kita kembali lagi kepada kegiatan makan siang hari seperti biasa.
Lanjut…? Klik disini

Filed under: Meditasi

Tuma’ninah, sebuah syarat mencapai kekhusyu’an dalam shalat

Sebuah riwayat menerangkan, bahwa sebelum shalat subuh , Rasulullah mempunyai kebiasaan melakukan istirahat dalam posisi tiduran miring yang disebut qailulah.1010.jpg Kebiasaan ini beliau lakukan pula menjelang shalat dhuhur. Relaksasi sebagaimana Rasulullah lakukan merupakan hal penting bagi orang yang hendak melakukan shalat, karena shalat merupakan perjalanan jiwa menuju Allah sehingga diperlukan persiapan yang serius namun rileks.

Lanjut…? Klik disini

Filed under: Meditasi

Membangun Jati Diri

Sebagian kalangan beranggapan bahwa kedua modal yang dimilikinya itu sudah cukup sehingga ia tidak perlu berhubungan dengan orang lain dan menimba ilmu dari orang lain. Sebagian lagi selalu ingin membandingkan dan membenturkan pandangannya dengan pandangan orang lain. Sudah pasti, kelompok kedualah yang akan menemukan kebenaran. Bukankah Imam Ali as pernah bersabda: “Benturkan sebagian pandangan yang kalian miliki dengan pandangan yang lain; maka akan muncul kebenaran”. Maksud dari hadis ini adalah bahwa perkembangan sebuah ilmu dapat diperoleh melalui tanya-jawab, kritik, sanggahan dan lain sebagainya. Oleh karena itu, orang yang memperoleh ilmu melalui penelitian dan menganalisa sebuah pandangan akan memiliki nilai tambah dari sisi keilmuannya.
Lanjut…? Klik disini

Filed under: Spiritual

Yaqzhah: Awal Jenjang Kearifan

 (Oleh: Ammar Fauzi Heryadi)
“Kesadaran ini disebut para arif dengan yaqdzah, sebagai langkah dan maqam pertama setiap pesuluk. Ia adalah insaf, yaitu mau memahami diri sendiri, apa adanya, secara jujur dan tulus. Sebaliknya, ketidaktahuan dan kemasabodohan akan kesadaran itu disebut para ahli Logika sebagai jahal murakkab, artinya kebodohan kuadrat. Artian ini memang terasa kasar oleh emosi, tapi sungguh tersentuh lembut oleh akal waras”
Lanjut…? Klik disini

Filed under: Meditasi