Menuju Ekstase Spiritual

The Light Worker Has Head In The Sky And Has Feet In The Earth

Berbagai Aturan dalam Mencapai Kesempurnaan Spiritual

Untuk bisa bergerak maju dalam spiritual ini, seorang penempuh jalan spiritual haruslah mengangkat orang tertentu saleh sebagai guru atau pembimbing spiritualnya. tabatabai.jpgSang guru mestilah telah mengalami fana dari dirinya sendiri dan telah mencapai tahap menetap dalam diri Allah (baqa’). Dia harus benar benar menyadari dan mengetahui segala sesuatu yang menguntungkan dan yang merugikan seorang penmpuh jalan spiritual dan mesti sanggup melakukan latihan serta memberikan bimbingan kepada para penempuh perjalanan lainnya. Selain itu, seorang penempuh jalan spiritual mestilah mengingat, menyebut nama Allahserta berdoa kepada-Nya.

1. Menjauhi Kebiasaan, Adat istiadat, dan Formalitas Masyarakat
Ini berarti menjauhi dan menghindari segenap formalitas yang berkaitan semata-mata dengan kebiasaan atau gaya hidup dan yang menghalang-halangi dan merintangi perjalanan sang penempuh jalan spiritual, yang harus hidup ditengah-tengah masyarakat manusia tetapi sanggup menjalani hidup secara sederhana dan seimbang. Sebagian orang begitu terseret oleh formalitas yang berlaku dalam masyarakat sehingga mereka senantiasa mengamalkannya secara rinci guna mempertahankan posisi mereka dala masyarakat dan sering kali terjerumus dalam berbagai kebiasaan yang sia-sia dan bahkan merugikan, yang hanya menyebabkan timbulnya kebencian serta kekhawatiran. Sebaliknya, ada sebagian orang lain yang hidup menyendiri dan mengabaikan segenap aturan yang berlaku di masyarakat dam — dengan demikian — tidak mau mengambil berbagai manfaat yang ada dalam masyarakat. Mereka tidak mau bergaul dengan orang lain dan dikenal sebagai kaum sinis. Untuk itu sang penempuh jalan spiritual haruslah mengambil jalan tengah. Dia tidak boleh terlalu banyak atau terlalu sedikit bergaul dengan orang lain. Tidak jadi soal kalau dia tampil beda dari orang-orang lain lantaran perilaku sosialnya yang khas.Allah berfirman,…Mereka tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela,…(QS5:54). Yang demikian itu berarti bahwa seorang mukmin sejati dan hakiki berpegang teguh pada apa yang dipandangnya benar.

2. Keteguhan
Begitu sang penempuh jalan spiritual memulai latihan-latihan spiritualnya, maka dia pasti menghadapi banyak peristiwa dan kejadian yang tak menyenangkan. Dia dikritik dan dikecam oleh sahabat-sahabat dan kenalan-kenalannya yang hanya berkepentingan dengan keinginan-keinginan diri sendiri serta berbagai kebiasaan yang berlaku di masyarakat. Mereka melecehkan dan mengecam sang penempuh jalan spiritual guna mengubah perilakunya serta memalingkannya dari tujuannya. Dengan demikian, pada setiap tahap dalam perjalanan spiritualnya, sang hamba harus menghadapi berbagai kesulitan dan kesukaran yang hanya bias diselesaikan dengan keteguihan, ketabahan, kemauan kuat dan tawakalnya kepada Allah. …Karena itu, hendaknya kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal (QS3:122).

3. Moderasi
Ini adalah salah satu prinsip penting yang mesti diikuti oleh sang penempuh jalan spiritual, sebab kelalaian sedikit saja dalam hal ini bukan hanya akan menghambat kemajuannya. Namun, kerap kali, sebagai akibat tiadanya atau kurangnya pada prinsip ini, dia bias kelelahan dalam melakukan perjalanan spiritual itu sendiri. Pada mulanya, sang penempuh jalan spiritual mungkin menunjukkan semangat yang bergelora dan menyala-nyala. Di pertengahan, dia mungkin menyaksikan berbagai manifestasi mengagumkan dari cahaya Ilahi, dan sebagai konsekuensinya — memutuskan untuk menghabiskan banyak waktu dalam mengerjakan berbagai amalan ibadah, serta menyibukkan diri dengan shalat, berdoa, merintih, dan menangis. Jadi dia mungkn berusaha mengambil segala sesuatu yang baik serta menyantap setiap jenis hidangan spiritual. Hanya saj praktik ini bukan saja tidak bermanfaat, melainkan juga — dalam banyak hal — sangat merugikan. Karena terlalu banyak mendapat tekanan, dia bias kekeyangan, mebiarkan pekerjaan tidak selesai dan tidak lagi brminat mengerjakan amalan-amalan yang di anjurkan. Terlalu bersemangat pada mulanya juga bakal menyebabkan timbulnya perasaan kurang berminat dan tertarik pada akhirnya. Pada prinsipnya hanya amalan-amalan ibadah yang ermanfaat saja yang harus ikerjakan dengan penuh kesungguhan dan semangat. Ucapan Imam Ja’far Shodiq berikut ini juga mempunyai makna serupa, “Jangan memaksakan dirimu kelewat berlebihan dalam beribadah.”

4. Kemantapan
Ini berarti sesudah menyesali dosa dan memohon ampunan Allah atasnya, dosa itu tidak bolh dilakukan lagi. Setiap nazar atau sumpah harus dipenuhi dan setiap janji yang diucapkan kepada guru yang saleh harus benar-benar dijaga.

5. Kesinambungan
Sebelum menjelaskan persoalan ini, perlu dikemukakan pendahuluan. Ayat-ayat Alquran dan berbagai riwayat menunjukkan bahwa segala sesuatu yang kita cerap dengan indera kita, segala sesuatu yang kita lakukan dan segala sesuatu yang ada atau terjadi memiliki kebenaran yang sama yang mengatasi alam materiel dan fisik ini serta tidak tunduk pada batasan-batasan ruang dan waktu. Bila batasan-batasan ini turun ke alam materiel ini, kebenaran-kebenaran itu mempunyai bentuk yang nyata dan tampak. Alquran dengan jelas mengatakan, Dan tidak ada sesuatu pun melainkan disisi kami ada khazanahnya. Dan kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu (QS15:21).
Pada esensinya, ayat ini bermakna bahwa segala sesuatu di dunia ini memiliki eksistensi yang tidak bisa diperkirakan dan diukur kadarnya sebelum berbentuk wujud materi. Apabila Allah bermaksud menurunkan sesuatu di dunia, Dia menetapkan ukuran dan kadarnya. Dengan demikian, sesuatu itupun akhirnya mnjadi terbatas. Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam sebuah kitab (Lawh Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah saja bagi Allah (QS57:22).

6. Meditasi
Ini berarti bahwa sang penempuh jalan spiritual sama sekali tidak boleh lupa pada tugas dan kewajibannya serta harus selalu mematuhi keputrusan yang telah diambilnya.
Makna meditasi atau kontemplasi sangat luas. Dan maknanya ini berbeda sesuai dengan berbagai tingkatan dan tahap-tahap perjalanan spiritual. Semula, ia berarti menjauhkandiri dari berbagai macam perbuatan yang sia-sia dan tak berguna didunia ini atau di akhirat nanti dantidak mengatakan atau melakukan sesuatu yang dibenci oleh Allah. Secara berangsur-angsur,meditasi ini makin bertambah kuat dan tinggi, dan terkadang bermakna pada konsentrasi pada diamnya diri sendiri, atau pada jiwa diri sendiri, atau pada kebenaran yang lebih tinggi, yakni nama-nama dan sifat Allah.
Disini disebutkan bahwa meditasi adalah factor yang penting dalam perjalanan spiritual. Para arif terkemuka sangat menekankan hal ini, dan melukiskannya sebagai batu fondasi perjalanan spiritual yang menjadi pijakan bagi bangunan zikir dan mengingat Allah. Bagi seorang openempuh jalan spiritual, meditasi sama pentingnya dengan resep diet bagi seorang pasien, yang tanpaitu obat-obatan tak bakal efektif atau bahkan menimbulkan efek yang bertolak belakang. Itulah sebabnya para pembimbing spiritual terkemuka tidak membolehkan adanya liturgy dan zikir tanpa meditasi.

7. Memeriksa dan Menilai Diri
Ini berarti bahwa sang penempuh jalan spiritual – setiap hari – mesti punya waktu khusus untuk memeriksa dan menilai apa yang telah dilakukan selam sehari penuh. Gagasan tentang pemeriksaan dan penilaian ini diperoleh dari ucapan Imam Musa Kazhim,”Barang siapa yang tidak memriksa dirinya sekali setiap hari bukanlah termasuk golongan kami.” Jika ketika sedang memeriksa dan menilai diri – sang penempuh jalan spiritual menemukan bahwa dia tidak melakukan kewajiban dan tugasnya, maka dia mesti memohon ampunan kepada Allah. Dan jika dia menemukan bahwa dia telah melaksanakan kewajiban dan tugasnya dalam segala hal, maka ia mesti bersyukur kepada Allah.

8. Mencela dan Menggugat Diri
Jika sang penempuh jalan spiritual mengetahui bahwa dirinya melakukan kekhilafan dan kesalahan, Maka dia mesti mengambil tindakan yang sesuai guna mencela atau menghukum dirinya sendiri.

9. Bersegera dan Mengambil Tindakan Tepat
Ini berarti bahwa sang penempuh jalan spiritual harus cepat melaksanakan keputusan yang telah diambilnya. Karena dia kemungkinan dan boleh jadi menghadapi banyak rintangan yang menghadang dijalannya, maka ia mesti waspada tanpa menyia-nyiakan waktu barang sedikit pun.

10. Iman dan Tawakal
Sang penempuh jalan spiritual harus mencintai dan mengimani Nabi dan para penerusnya yang berhak. Tawakal dan menaruh kepercayaan secara khusus diperlukan dalam tahap ini. Semakin besar kadar tawakal, semakin lama efek amal-amal baik dirasakan.
Karena segala sesuatu yang ada adalah ciptaan Allah, maka sang penempuh jalan spiritual haruslah mencintai semuanya itu dan menghormati sesuai dengan tingkat dan derajat kemuliannya. Orang yang mencintai Allah berbuat baik kepada sesame manusia dan binatang. Menurut sebuah hadis, cinta kepada mahluk atau ciptaan Allah adalah sebagian dari iman kepada Allah. Hadis lainnya mengatakan, “Ya Allah, aku memohon kepada-u kecintaan-Mu dan kecintaan orang yang mencintai-Mu.”

11. Mengamalkan Berbagai Aturan Ibadah
Mengamalkan aturan-aturan tata krama yang baik pada segenap mahluk dan wakil-Nya berbeda dengan iman dan tawakal yang sudah disinggug diatas. Ibadah disini bermakna sikap berhati-hati untuk tidak melewati dan melampaui batas-batas dan melakukan sesuatu yang tidak konsisten dengan syarat-syarat penghambaan manusia kepada Allah. Manusia harus mengetahui batas-batas nya vis a vis penciptanya, wujud yang benar-benar ada. Ibadah ini adalah syarat yang diperlukan dalam dunia kemajemukan ini, sementara iman da cinta tentulah membutuhkan perhatian pada monoteisme – keesaan Allah (tawhid).
Iman dan dan ibadah memiliki kedudukan hubungan yang sama satu sama lain sebagai suatu perbuatan yang wajib dan perbuatan yang dilarang. Di saat melakkan perbuatan yang wajib, sang hamba pun melihat an memperhatikan Allah. Dan ketika menjauhi perbuatan yang dilarang, dia mesti memperhatikan batas-batas kemampuannya sendiri agar jangan sampai melampauinya. Ibadah adalah mengikuti jalan tengah antara rasa takut dan harapan. Tidak mengamalkan aturan-aturan dalam ibadah menunjukkan terlalu akrab dengan apa yang sama sekali tidak dikehendaki.
Singkat kata, manusia – yang merupakan wujud yang bersifat mungkin – tidak boleh melupakan batas-batas yang menelikung dirinya. Itulah sebabnya Imam Ja’far Ash-Shadiq biasa bersujud di atas tanah setiap kali ada sesuatu yang kelewat berlebih-lebihan atau ekstrem diucapkan oleh seseorang tentang diri beliau.

12. Niat
Ini berarti sang penenmpuh jalan spiritual mestilah tulus dan ikhlas serta mempunyai niat baik. Tujuan perjalanan spiritualnya – tak lain dan tak bukan – haruslah fana’ dalam diri Allah. Alquran mengatakan, “Beribadah kepada Allah dengan semata-mata beribadah kepada-Nya saja
Sejumlah riwayat mengatakan bahwa ada tingkatan niat. Imam Ja’far Ash-Shadiq diriwayatkan pernah mengatakan, “Ada tiga macam orang beribadah. Ada orang yang beribadah kepada Allah karena takut kepada-Nya, Ibadah mereka ini adalah ibadah para budak dan hamba sahaya. Ada sebagian orang yang beribadah kepada Allah demi memperoleh balasan dan ganjaran. Ibadah mereka ini adalah ibadah para pedagang. Ada sebagian orang lainnya lagi yang beribadah kepada Allah karena cinta kepada-Na semata. Inilah ibadah orang-orang merdeka.
Alquran melukiskan ibadah kepada Allah sebagai watak dan fitrah manusia. Pada saat yang sama, Alquran menafikan adanya kemungkinan perubahan dalam sifat-sifat bawaan manuasia sejak lahir: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah);(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya (QS30:30).
Karena itu, suatu amal ibadah yang lahir dari kepentingan diri bukan hanya menyimpang dari jalan kepatuhan kepada Allah, melainkan juga menyimpang dari jalan monoteisme, sebab orang-orang yang mementingkan diri sndiri ini jelas tidak beriman kepada keesaan Allah (tawhid) dalam segenap perbuatan dan sifat-Nya lantaran menyekutukan Allah dengan sesuatu lainnya. Mereka mempunyai tujuan ganda. Dan inilah yang disebut politeisme atau syirik, yang menurut Alquran merupakan dosa yang tak terampuni. Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya,…(QS 4:48).

13. Diam
Ada dua jenis diam: (1) Umum dan relatif; (2) Khusus dan mutlak. Diam relative berarti tidak berbicara kepada orang dalam kadar dan takaran melebihi apa yang diperlukan. Jenis diam ini sangat diperlukan oleh sang penempuh jalan spiritual pada setiap tahap. Juga dianjurkan pada yang lainnya. Imam Ja’far Ash-Shadiq berkata, “Para pengikut kami adalah bisu.” Dalam riwayat lainnya beliau mengatakan, “Diam adalah cara kekasih-kekasih Allah, karena Allah memang menyukai diam. Diam adalah gaya hidup para nabi dan orang-orang pilihan.” Dan dalam riwayat yang lainnya beliau berkata.”Diam adalah sebagian dari hikmah dan tanda bagi setiap keutamaan.” Diam khusus dan mutlak berarti tidak berbicara selama mengingat Allah secara verbal atau melantunkan kalimat-kalimat dzikir.

14. menempuh Kehidupan Sederhana dan Bersahaja
Ini dianjurkan dengan syarat tidak mengganggu ketenangan dan ketenteraman mental. Imam Jafar Ash-Shadiq mengatakan, “Seorang mukmin menikmati lapar. Baginya, lapar adalah makanan hati, kalbu, dan jiwa.

15. Menyendiri
Ada dua jenis menyendiri: Umum dan khusus. Menyendiri yang bersifat umum berarti tidak bercampur dan bergaul dengan orang lain, khususnya orang-orang awam dan bertemu dengan mereka hanya manakala benar-benar dirasa perlu. Alquran mengatakan “Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia,….(QS 6:70).
Menyendiri yang bersifat khusus berarti menjauhi manusia. Jenis menyendiri seperti ini dianjurkan pada waktu mengerjakan berbagai amalan ibadah, tetapi dipandang sangat penting oleh kaum arif di saat mengucapkan dan melantunkan berbagai wirid dan zikir.

16. Bangun Malam
Ini berarti juga bahwa sang penempuh jalan spiritual mesti membiasakan diri bangun sebelum fajar pagi menyingsing. Mengecam orang yang tidur di waktu fajar dan memuji orang yang bangun pada waktu itu, Allah berfirman, mereka sedikit sekali tidur di waktu malam dan di akhir malam memohon ampun (kepada Allah) (QS 51:17-18).

17. Senantiasa Bersih
Ini berarti secara ritual selalu bersih dan mandi menghilangkan hadas besar maupun kecil pada hari-hari jumat dan pada berbagai kesempata lainnya yang dianjurkan.

18. Bersikap Sopan dan Renah Hati
Termasuk di dalamnya adalah menangis dan meratap.

19. Berpantang dari makanan Lezat
Sang penempuh jalan spiritual mesti berpantang dari makanan lezat dan harus puas dengan makanan yang sedikit sebanyak yang diprlukan untuk mempertahankan hidup dan menambah energi.

20. Kerahasiaan
Ini adalah salah satu hal paling penting yang harus diamalkan oleh seorang penempuh jalan spiritual. Orang-orang yang arif besar sangat cermat dan teliti mengenainya serta sangat menekankannya. Mereka menganjurkan murid-muridnya untuk merahasiakan latihan-latihan spiritual berikut berbagai visiyang mereka alami dan sebagainya. Jika penyembunyian (taqiyyah) tidak mungkin dilakukan, maka harus dilakukan penyamaran (tawriyah). Jika latihan-latihan spiritual yang diperlukan bisa ditinggalkan untuk sementara waktu guna menjaga kerahasiaan, “Maka cobalah memenuhi kebutuhan-kebutuhamu dengan menjaga kerahasiaan.”

21.Guru dan Pembimbing Spiritual
Guru dan pembimbing spiritual juga ada dua macam: umum dan khusus. Guru umum adalah orang yang tidak bertanggung jawab membimbing seseorang tertentu. Orang-orang yang memohon bimbingan darinya dengan memandangnya sebagai orang yang berpengetahuan dan berpengalaman. Alquran mengatakan, “Bertanyalah kepada orang-orang yang tahu jika kamu memang tidak tahu.” Para guru ini bisa membantu hanya dalam tahap awal perjalanan spiritual. Manakala sang penempuh perjalanan spiritual mulai menyaksikan berbagai manifestasi keagungan esensi dan sifat-sifat Allah, maka dia tidak lagi membutuhkan guru umum. Guru khusus adalah dia yang karenanya undang-undang dan hukum Ilahi diadakan sehingga dia diberi tugas serta kewajiban memberikan bimbingan. Kedudukan ini hanya ditempati oleh Nabi dan para penerusnya yang sah. Bimbingan dan persahabatan ini sangatlah penting bukan hanya setiap tahap perjalanan spiritual, melainkan juga bahkan sesudah sang penempuh jalan spiritual mencapai tujuannya. Persahabatan ini bersifat esoteris dan tidak fisikal, sebab sifat dan watak hakiki Imam adalah kedudukannya yang cemerlang, yang otoritasnya meliputi semua orang dan segala sesuatu di dunia ini. Kendatipun sosok ubuh sang Imam juga lebih unggul ketimbang sosok tubuh orang-orang lainnya, sumber otoritasnya atas alam semesta ini bukanlah sosok tubuh nya. Dengan menjelaskan masalah ini, bias disebutkan bahwa yang terjadi di dunia ini bersumber dari nama-nama dan sifat-sifat Allah, dan nama-nama dan sifat-sifat Ilahi itu adalah esensi Imam itu sendiri. Itulah sebabnya para Imam mengatakan, “Allah dikenal melalui kami dan diibadahi serta disembah melalui kami juga.” Oleh karena itu, bias dikatakan dengan benar bahwa tahap-tahap perjalanan spiritual apapun yang dilaluinya, sang penempuh jalan spiritual menempuh semua tahap itu dengan cahaya Imam, dan setiap kedudukan yang disitu dia mengalami kemajuan, maka kedudukan itu dikendalikan oleh Imam(ruh suci).

Dinukil dari buku “Menapak Jalan Spitual” oleh S . M . H . THABATHABA’I
Penerbit PUSTAKA HIDAYAH, Cet. Ketiga.

Filed under: Meditasi

4 Responses

  1. aziz mengatakan:

    Assalamualaikum.. salam kenal akhi..
    ana melihat artikel ini sangat menarik. sungguh inilah adab dalam mencari jalan spiritualitas. termasuk didalamnya muhasyadah, dan muroqobah..

  2. sanggardewa mengatakan:

    @aziz
    wa’alaikum salam, salam kenal juga
    meditasi, kontemplasi dan aplikasi. semoga bermanfaat,

  3. Mashendrashabera mengatakan:

    Assalamu alaikum.,salam kenal
    Artikel ini sangat bermaanfaat saya minta izin untuk mengcofy dan menyimpan halaman ini,
    Syukrankasiir……!

  4. sanggardewa mengatakan:

    @mashendrashabera
    salam kenal
    silahkan mas, semoga bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: